Wasiat Nabawiyyah Untuk Muslimin Indonesia

0
583

Kajian Tabligh Akbar
Minggu, 24 April 2016
Masjid Astra Sunter Jl. Gaya Motor Raya No.3 Sunter, Jakarta Utara
Syaikh Prof. Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri
Penerjemah: Ustadz Maududi Abdullah, Lc.

Supported by : Maa HaaDzaa

WASIAT NABAWIYYAH UNTUK MUSLIMIN INDONESIA

Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menciptakan alam semesta dan memberi rezeki kepada kita dan yang akan mengadili serta menghakimi kita di hari kiamat nanti. Dengan apa Allah akan berikan wasiat kepada kita di dalam Al-Qur’an?

Dengarkan firman-firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatur kehidupan kita, dengarkanlah wasiat-wasiat Allah kepada kita, yang menaikkan derajat kita semua, yang menurunkan derajat kita semua, yang memuliakan kita serta yang akan menghinakan kita

Beberapa wasiat yang Allah berikan kepada kita

1. WASIAT UNTUK BERTAKWA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Terdapat pada firman-Nya pada Surat An-Nisa ayat 131. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَللّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ لِلّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَانَ اللّهُ غَنِيّاً حَمِيداً

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.”

Apa makna dari bertakwa kepada Allah? Takwa kepada Allah adalah berhati-hati kepada Allah, hanya lari kepada Allah, dan meminta hanya kepada Allah

Bagaimana Muslim mempraktekkannya? Umpama seseorang yang sedang berperang memakai pelindung agar terhindar dari peluru. Begitu juga dengan takwa. Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Mencegah diri dari berbuat maksiat dan takwa dapat melindungi diri kita dari perbuatan yang buruk

Kenapa kita harus menjadi orang yang bertakwa kepada Allah? Padahal Allah telah menghancurkan umat-umat sebelum kita

Dimana kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam? Dimana Fir’aun dan para pengikutnya? Dan dimana Qarun yang memiliki harta yang berlimpah? Mereka telah dihancurkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala padahal mereka memiliki jumlah yang sangat banyak

Bahkan di zaman kita sekarang manusia yang awalnya kaya raya sekarang mereka jatuh miskin. Siapa yang membuat keadaan mereka menjadi seperti itu? Maka bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Kenapa kita harus takut terhadap orang-orang besar? Bukankah kita seharusnya takut kepada Allah saja?

Kenapa kita harus takut pada binatang buas? Padahal Allah yang telah mengatur mereka menjadi buas. Takutlah kepada Allah, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan mencukupkan kebutuhan kita

Allah yang mencukupkan kebutuhan hamba-Nya dan kita harus takut hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Sesungguhnya takwa berasal dari hati. Gerakan tubuh untuk melakukan kebaikan merupakan gerakan hati orang-orang yang bertakwa. Dan kita bisa lihat berapa persenkah ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Akan kita bacakan beberapa ayat yang menyangkut dengan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terdapat pada awal Surat Al-Baqarah :

الم (١) ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (٤) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٥)

” Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung ”

Dari ayat tersebut, bahwasanya menyatakan orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang siap menghadapi hari kiamat, dan yang benar-benar mendirikan shalat, dan yang menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah

Sifat-sifat orang yang bertakwa antara lain :
* senantiasa berinfak di kala lapang dan sempit
* senantiasa menahan amarahnya
* senantiasa memaafkan terhadap manusia lainnya
* selalu berbuat baik ( mukhsinin)
* apabila melakukan maksiat, seketika mereka ingat kepada Allah dan bertaubat kepada Allah

Lalu ayat yang menceritakan tentang ketakwaan kepada Allah pada Surat Al-Baqarah ayat 177. Allah berfirman :

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (١٧٧)

” Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. ”

Memberikan harta di kala sempit adalah bukti ketakwaan kepada Allah. Kalau demikian adanya, apakah kita termasuk orang-orang yang memiliki ketakwaan tersebut?

Di akhirat nanti, kita akan mendapatkan kemuliaan masuk Surga. Sesungguhnya yang bertakwa yang akan mendapat keberuntungan

Orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan Surga. Begitu juga di dunia, Allah akan berikan rezeki yang lapang dan memberikan rasa aman

Orang-orang yang bertakwa kepada Allah akan dicintai oleh Allah dan para malaikatnya. Orang yang bertakwa akan selalu menolong sesamanya, maka inilah wasiat Allah kepada kaum Muslimin yaitu bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala
2. WASIAT UNTUK BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA
Terdapat pada Surat Al-Isra’ ayat 23. Allah berfirman :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَر أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

” Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sakali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Berbuat baik kepada orangtua bukan untuk membalas. Tapi sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah meskipun orangtua telah berbuat yang tidak baik

Bisa juga dengan memuliakan sahabat orangtua dan menjalin silaturahmi dengan kerabat orangtua meskipun kedua orangtuanya telah wafat
3. WASIAT UNTUK SELALU MEMPERBAIKI DAN MENJAGA SILATURAHMI DENGAN SESAMA

Terdapat pada firman Allah subhanahu wa ta’ala pada Surat Al-Ahzab ayat 6-8

Surat Al-Ahzab ayat 6

النَّبِيُّ أَوْلى‏ بِالْمُؤْمِنينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَ أَزْواجُهُ أُمَّهاتُهُمْ وَ أُولُوا الْأَرْحامِ بَعْضُهُمْ أَوْلى‏ بِبَعْضٍ في‏ كِتابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنينَ وَ الْمُهاجِرينَ إِلاَّ أَنْ تَفْعَلُوا إِلى‏ أَوْلِيائِكُمْ مَعْرُوفاً كانَ ذلِكَ فِي الْكِتابِ مَسْطُوراً

” Nabi itu adalah lebih utama bagi orang yang beriman dari diri mereka sendiri, dan isteri-isteri beliau adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah yang setengah dengan yang setengah lebih utama di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mu’min dan orang-orang yang berhijrah, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudara kamu Adalah yang demikian itu, di dalam Kitab Allah, telah tertulis.”

Surat Al-Ahzab ayat 7

. وَ إِذْ أَخَذْنا مِنَ النَّبِيِّينَ ميثاقَهُمْ وَ مِنْكَ وَ مِنْ نُوحٍ وَ إِبْراهيمَ وَ مُوسى‏ وَ عيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَ أَخَذْنا مِنْهُمْ ميثاقاً غَليظاً

” Dan (ingatlah) seketika Kami telah mengambil perjanjian dari Nabi-Nabi dan dari engkau dan dari Nuh dan Ibrahim dan Musa dan ‘Isa anak Maryam. Dan telah Kami ambil dari mereka perjanjian yang berat.”

Surat Al-Ahzab ayat 8

لِيَسْئَلَ الصَّادِقينَ عَنْ صِدْقِهِمْ وَ أَعَدَّ لِلْكافِرينَ عَذاباً أَليماً

” Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang jujur akan kejujuran mereka, dan telah Kami sediakan untuk orang-orang yang tidak mau percaya siksaan yang pedih.”

Dalam ketiga ayat tersebut, kita mendapat betapa erat hubungan seorang ummat dengan Rasul-Nya, dan bagaimana pula hubungan erat janji setia seorang Rasul dengan Tuhan yang mengutusnya.

Beberapa contoh wasiat-wasiat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

1. Menjaga shalat dan budak-budak

Wasiat dari malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits Nabi dari Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berbunyi :

” Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Jibril senantiasa mewasiatkan aku tentang tetangga sampai aku menduga bahwa ia akan menjadikan tetangga sebagai ahli waris. ” (Shahih Muslim No.4756)
2. Menghormati para pemimpin

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ.

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada perkara yang ia sukai dan tidak ia sukai, kecuali jika diperintahkan berbuat maksiat, jika diperintah berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” (HR. Al-Bukhari no. 7144; dan Muslim no. 1839).
3. Bersikap malu terhadap orang shaleh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Aku wasiatkan engkau agar malu kepada Allah SWT sebagaimana engkau malu dari orang yang shalih.” (HR. Ahmad)
4. Wasiat untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala di kala sendiri atau di tengah keramaian

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal ketika pergi ke Yaman dan disampaikan juga kepada Abu Dzar al Ghifari radliyallah ‘anhu:

اتَّقِ الله حَيثُمَا كُنْتَ ، وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمحُهَا ، وخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan al Tirmidzi, beliau menghasankannya).

Apabila kita telah berbuat buruk kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka ingatlah akan perbuatan baik. Terkadang kita menyakiti orang-orang di sekitar kita. Maka iringilah dengan perbuatan baik
PENUTUP

Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan beberapa wasiat kepada kita, di antaranya adalah bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berbakti kepada orangtua dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama. Barangsiapa yang mengamalkannya, maka bisa didefinisikan sebagai orang yang bertakwa. Apabila kita hanya meminta kepada Allah semata, maka kita telah mengamalkan firman-firman Allah subhanahu wa ta’ala
Dodi – Maa HaaDzaa

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.