TSABIT BIN QAIS RADHIYALLAHU ‘ANHU Sang Khatib

0
595

Tabligh Akbar Nurul Iman
Sabtu, 10 Desember 2016
Masjid Nurul Iman Blok M Square
Ust. Dr. Khalid Basalamah, MA

=====================

TSABIT BIN QAIS RADHIYALLAHU ‘ANHU Sang Khatib

=====================

Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapat jaminan masuk ke dalam Surga selain sepuluh orang yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan, istri-istri Nabi, dan cucu-cucu Nabi radhiyallahu ‘anhum. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Tsabit bin Qais radhiyallahu’anhu :

” Hai Tsabit, bergembiralah. Karena kamu akan hidup mulia, akan mati syahid, dan masuk ke dalam Surga ”

Beliau adalah orang yang fasih dan lantang  suaranya dan seorang orator yang baik. Masuk Islamnya Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu dari dakwah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Tsabit berasal dari Madinah dari suku Khazraj. Saat itu Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu diutus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdakwah di Yastrib ( Madinah). Mush’ab mendatangi As’ad bin Zurar, seseorang yang tinggal di Madinah yang menerima kedatangan Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu.

Salah satu yang tersentuh oleh dakwah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu adalah Tsabit, seorang orator dari suku Khazraj yang menjadi kaum Anshor. Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang cerdas. Ia menanyakan kepada Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu tentang agama yang dibawanya yaitu Islam. Seorang wanita yang bersamanya masuk Islam bernama Habibah langsung dilamar oleh Tsabit tanpa harus menunggu. Beliau mendapatkan julukan ” Khatib Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu berkhutbah di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

” kami akan melindungimu, lalu apa yang akan kami dapatkan? ”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Surga”. Karena pertanyaan Tsabit kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seluruh kaum Anshor merasa tentram dan memperkuat keyakinan untuk melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pernah suatu waktu datang delegasi dari Bani Tamim untuk membanggakan diri di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ketika itu Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu berkhutbah di hadapan mereka. Tidak ada satupun dari delegasi tersebut yang berbicara. Mereka mengakui keahlian Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu sebagai Khatib. Ada ayat Al-Qur’an yang turun untuk Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Surat Lukman ayat 18, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

” Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri ”

Kemudian Tsabit bin Qais berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ” Ya Rasulullah, aku takut celaka “. Tsabit radhiyallahu ‘anhu mengatakan hal tersebut karena dia memiliki suara yang lantang sehingga membuatnya takut akan kesombongan. Dan Surat Al-Hujurat ayat 2, Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. ”

Tsabit merasa dirinya telah meninggikan suaranya di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Tsabit radhiyallahu ‘anhu tidak terlihat di masjid. Tradisi yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ada yang tidak hadir di masjid maka beliau akan bertanya kepada yang lain. Di rumahnya, Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata sambil menangis, ” aku adalah penghuni Neraka “. Kemudian Sa’ad Ibn Mu’adz radhiyallahu ‘anhu menjenguk Tsabit di rumahnya. Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa dirinya telah meninggikan suaranya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa mulianya akhlak yang dimiliki Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Ketika ia mendengar ayat itu, membuatnya menjadi tersentuh.

Sebelum kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah, suku Auz dan Khazraj ( suku asli Madinah) sering berperang dan orang-orang Yahudi sering mengadu domba kedua suku tersebut.

Sebelum Tsabit radhiyallahu ‘anhu masuk Islam, ia pernah ditolong oleh seseorang bernama Zubair. Kemudian ia mendengar Zubair ditawan karena kalah dalam peperangan. Tsabit radhiyallahu ‘anhu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolongnya dan membebaskannya dari hukum penggal. Permintaan Tsabit radhiyallahu ‘anhu dikabulkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pernah juga suatu kisah seorang wanita dari Bani Mustaliq bernama Juwairiyah yang menjadi tawanan perang berkata kepada Tsabit radhiyallahu ‘anhu

” wahai Tsabit, aku adalah anak Raja. Bisakah aku menemui Nabi untuk menebus diriku sendiri? “. Kemudian Tsabit berkata, ” itu adalah hakmu “. Kemudian Juwairiyah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertemu dengan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Juwairiyah bertanya keberadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan kemudian ‘Aisyah mempersilahkan Juwairiyah masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juwairiyah mengatakan tujuan kedatangannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi pun bersabda :

” wahai Juwairiyah, apakah engkau mau yang lebih baik daripada yang kau minta? ” Juwairiyah pun mengiyakan pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Juwairiyah dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh Bani Mustaliq dibebaskan dan mengislamkan Juwairiyah beserta seluruh Bani Mustaliq. Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata dengan lembutnya, ” tidak ada wanita yang lebih mulia dari Juwairiyah yang memperhatikan kaumnya “. Disini terlihat pula kemuliaan Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Bisa saja ia yang menikahi Juwairiyah dan membuatnya bebas dari tawanan. Namun, ia lebih mendahulukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan dirinya sendiri

Tsabit radhiyallahu ‘anhu dijanjikan syahid oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mendengar perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Tsabit sangat gencar mengikuti peperangan. Ketika perang Yamamah, sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Tsabit terbunuh dan syahid. Sebelumnya kaum Muslimin dipukul mundur oleh pasukan Musailamah Al-Kadzab. Kemudian Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, ” bukan begini peperangan di zaman Nabi “. Seluruh pasukan Muslimin diam di tempatnya, kemudian Tsabit radhiyallahu ‘anhu maju sendirian menghadapi musuh di depannya dan menyerang mereka sehingga Tsabit terbunuh dan syahid. Pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, beliau pernah bersabda :

” sebaik-baik laki-laki adalah Tsabit bin Qais ”

————————–

Beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari kemuliaan Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu :
1. mendapat pujian dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
2. mendapat julukan Khatib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
3. orang pertama yang masuk Islam di tangan Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu
4. orang yang patuh dan taat serta menjaga kesucian hubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala
5. paling banyak mengikuti peperangan
6. orang yang tepat janji, amanah, dan maksimal dalam memberi kebaikan
7. mendahulukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibanding dirinya sendiri
8. bagaimana ia mendapat syahid di perang Yamamah dan adab mendapatkan syahid
9. pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya bahwa ia sebaik-baik lelaki

————————-

Dari kisahnya dan julukannya yang diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Khatib, ada beberapa syarat untuk menjadi Khatib :
1. Muslim
2. Baligh
3. Berakal (dewasa)
4. Mengetahui masalah
5. Memulai ceramahnya dengan memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
6. Suci
7. Menutup aurat
8. Berdiri
9. Menguasai materi yang disampaikan
10. Ikhlas
11. Mengatur panjang pendek khotbah sesuai keadaan
12. Berilmu

—————————-

Beberapa fadhillah yang bisa diambil dari Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu :

Fadhillah Kemuliaan
1. Panen pahala dari apa yang disampaikan
2. Mendapat perbaikan dari kesalahan yang terjadi
3. Kedudukan ilmu dan Khatib
4. Janji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Tsabit radhiyallahu ‘anhu tentang hidupnya yang mulia

—————————-

Fadhillah Syahid
1. Dihapuskan dosanya dari tetes darah terakhir
2. Dijauhkan dari adzab kubur
3. Dinikahkan dengan para bidadari
4. Dapat memberikan tujuh pluh ribu syafaat
5. Diampuni dosanya kecuali hutangnya

Allahu a’lam

Dodi – Maa HaaDzaa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.