Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Qomar

0
120

Review Majelis Ilmu
Ahad, 3 Desember 2017
Acara Khasanah Metro TV
Ust. Dr. Firanda Andirja, MA

Kajian Tafsir

======================

TAFSIR SURAT AL-QOMAR

======================

Surat Al-Qomar secara bahasa berarti bulan. Kenapa dikatakan Al-Qomar? Karena ayat pertama pada Surat Al-Qomar ini menyebutkan tentang bulan. Surat ini adalah surat Makkiyah. Meskipun klasifikasi Surat Makkiyah atau Madaniyah dihubungkan dengan tempat, tapi Sebenarnya diklasifikasikan dengan waktu. Ayat tersebut turun di Mekkah dan disebut Makkiyah karena kondisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum berhijrah ke Madinah.

Seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang Wukuf. Surat Al-Maidah ayat 3 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (1)

Surat ini adalah surat yang agung. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membaca surat ini ketika shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Kita tahu, kedua shalat ini dihadiri oleh banyak orang. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk semua wanita keluar dan menghadiri shalat tersebut. Surat Al-Qomar mengingatkan kita kepada akhirat. Dan bagaimana kesudahan orang-orang yang beriman dan kesudahan orang-orang yang mendustakan Allah subhanahu wa ta’ala.

Asbabun Nuzul dari Surat ini, adalah ketika orang-orang Mekkah yang musyrik meminta bukti kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Kemudian atas kehendak-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala membelah bulan saat itu juga.

Ulama menyebutkan tanda-tanda besar dan tanda-tanda kecil hari kiamat. Tanda-tanda besar seperti terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam dan munculnya Dajjal. Tanda-tanda kecil adalah seperti diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi seorang Nabi. Dan salah satunya adalah terbelahnya bulan. Mayoritas ahli tafsir, bulan pernah terbelah. Jikalau ada ahli tafsir yang mengatakan bulan akan terbelah, maka ini menyelisihi tafsir yang ada. Dan tidak akan ada artinya bagi kaum musyrikin.

Ahli fisika mengatakan, bahwa di bulan terdapat bekas terbelahnya bulan. Bagi orang beriman, baik ada bekasnya atau tidak, kita tetap beriman. Karena semua tertulis di dalam Firman Allah subhanahu wa ta’ala. Bagi Allah mudah saja untuk membuat bekas belahannya atau menghilangkannya. Tapi tetap bagi orang beriman, kita meyakini peristiwa tersebut.

Kemudian Allah menjadikan bulan terbelah. Tetapi kaum musyrikin tetap tidak beriman. Seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Aurat Al-Qashash ayat 48 :

فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا لَوْلَا أُوتِيَ مِثْلَ مَا أُوتِيَ مُوسَىٰ ۚ أَوَلَمْ يَكْفُرُوا بِمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ قَالُوا سِحْرَانِ تَظَاهَرَا وَقَالُوا إِنَّا بِكُلٍّ كَافِرُونَ

” Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: “Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu?”. Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang telah diberikan kepada Musa dahulu?; mereka dahulu telah berkata: “Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang bantu membantu”. Dan mereka (juga) berkata: “Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu”. (2)

Mereka menganggap ini adalah sebuah sihir yang hebat. Tatkalan Fir’aun mengatakan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam adalah seorang penyihir. Yang menjadikan tongkat menjadi seekor ular, dikatakan ini adalah sihir yang pintar.

Kembali ke cerita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada beberapa kaum musyrikin ingin mengetahui dan menunggu orang-orang yang bersafar ke negri Syams untuk menanyakan apakah bulan terbelah atau tidak. Ketika mereka kembali negri Syams, mereka mengatakan melihat bulan terbelah. Dan orang-orang musyrikin berkata, ini adalah sihir yang pintar sehingga orang-orang di Syams juga tersihir

Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 76 :

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (3)

Orang-orang musyrikin terbiasa hidup senang, berzina, meminum khamr, dan bermaksiat. Ketika datang seorang Nabi yang mengatakan akan datang hari kiamat, mereka tidak mau beriman karena mereka harus menanggung konsekuensi untuk tidak bermaksiat lagi. Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan, setiap perkara ada atirannya. Orang-orang yang beriman akan mendapatkan balasan Surga dan orang-orang yang mendustakan Allah akan mendapat balasan Neraka.

Allah berfirman di Surat Al-Qomar ayat yang ke-6 :

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ ۘ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَىٰ شَيْءٍ نُكُرٍ

Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan)” (4)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagaimana nanti kita dibangkitkan. Kita dibangkitan dalan keadaan tidak berkhitan, tidak beralas kaki, dan tidak memakai pakaian sehelai pun. Tidak ada harta sepeserpun yang akan kita bawa. Demikian ketika mereka dibangkitkan, mereka kebingungan tanpa arah. Ada yang ke kanan, ke kiri, depan atau belakang. Kemudian mereka diarahkan menuju Padang Mahsyar dan mereka patuh kepada penyuruh tersebut dengan cepat. Orang-orang kafir berkata, ” ini adalah hari yang berat”

Para ulama mengatakan, ini adalah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. Mereka mengatakan, ” ini adalah hari yang ringan “. Orang-orang kafir berkata satu hari bagaikan 50 ribu tahun. Ini dirasakan oleh orang-orang kafir ketika matahari tepat berada di atas kepala mereka beberapa mil saja. Mereka kepanasan dan ada yang berkeringat deras. Tapi orang-orang beriman tidak merasakan selama itu

Allah menceritakan nasib orang-orang terdahulu yang memdustakan Allah. Allah menceritakan kisah kaum Nabi Nuh, kaum Ad, kaum Tsamud, kaum Nabi Luth, dan lain-lain. Maksudnya adalah, jika kalian mendustakan kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kalian akan merasakan hal yang sama seperti kaum-kaum terdahulu.

Allah ceritakan di ayat ke-9 Surat Al-Qomar :

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ

” Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman). (5)

Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah orang yang sabar. Beliau berdakwah selama 950 tahun dan umur Nabi Nuh lebih dari itu. Namun, yang beriman kepadanya hanya sedikit. Hanya sekitar 80 orang saja yang naik ke kapal Nabi Nuh ‘alaihis salam. Allah turunkan Surat Nuh untuk menceritakan kisah dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam. Nabi Nuh ‘alaihis salam curhat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semakin kaumnya didakwahi, mereka semakin keras kepala dan mereka kabur. Mereka menutup telinga mereka ketika Nabi Nuh berdakwah. Padahal, Nabi Nuh berdakwah meminta kepada Allah agar mereka diampuni. Allah turunkan Surat Nuh untuk menghibur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa dahulu dakwah Nabi-Nabi sebelumnya lebih berat dibandingkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah kabarkan kepada Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk menyudahi dakwahnya. Di musim kemarau Allah perintahkan Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk membuat sebuah kapal. Orang-orang yang tidak beriman mengejek Nabi Nuh sebagai orang gila. Dan akhirnya, hari tersebut benar-benar tiba. Allah jadikan bumi sebagai mata air, bukan Allah jadikan air keluar dari mata air. Allah keluarkan air dari atas dan bawah. Bahkan dari tempat pembakaran juga keluar air. Allah memerintahkan Nabi Nuh dan kaumnya untuk naik ke atas kapal yang dibuatnya.

Orang-orang Atheis mengatakan, dimana bukti geografisnya bahwa pernah terjadi banjir besar di seluruh permukaan bumi. Padahal sebenarnya, Allah tidak menjadikan banjir itu menutupi seluruh bumi. Hanya di sekitar Nabi Nuh dan kaumnya bermukim. Jarak Nabi Nuh dengan Nabi Adam hanya sekitar 10 generasi. Dan orang-orang waktu itu masih terfokus di wilayah tempat Nabi Nuh berdakwah. Allah jadikan kapan Nabi Nuh tetap utuh dalam beberapa waktu.

Allahu a’lam

Sumber Kutipan ayat Al-Qur’an :

1. https://almanhaj.or.id/2043-islam-adalah-agama-yang-sempurna.html
2. https://tafsirq.com/28-al-qasas/ayat-48
3. https://tafsirq.com/7-al-araf/ayat-176
4. https://tafsirq.com/54-al-qamar/ayat-6
5. https://tafsirq.com/54-al-qamar/ayat-9

📨 Diposting dan disebarkan kembali oleh Maa Haadzaa

🕌 Silahkan bergabung untuk mendapatkan info seputar kajian dan atau ilmu sesuai sunnah
Melalui:
Website https://www.maahaadzaa.com
Join Channel Telegram https://goo.gl/tF79wg
Like Facebook Fans Page https://goo.gl/NSB792
Subscribe YouTube https://goo.gl/mId5th
Follow Instagram https://goo.gl/w33Dje
Follow Twitter https://goo.gl/h3OTLd
Add BBM PIN: D3696C01
WhatsApp Group khusus Ikhwan https://chat.whatsapp.com/61ro649XzxE98l4td4JvkB
WhatsApp Group khusus Akhwat https://chat.whatsapp.com/ISGS0GMSI8NBmgZOmAZMiG

Silahkan disebarluaskan tanpa mengubah isinya. Semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita.
Jazaakumullahu khairan.

Tinggalkan Balasan