Seri Fatwa Seputar Ramadhan

0
437

1. HUKUM PUASA WANITA NIFAS APABILA TELAH SUCI KEMUDIAN DARAH KEMBALI MUNCUL SEDANGKAN IA MASIH DALAM RENTANG EMPAT PULUH HARI (setelah kelahiran)

❓Pertanyaan :
→ Apabila wanita nifas telah suci dalam rentang waktu seminggu setelah kelahiran,

→ sehingga kemudian ia berpuasa bersama kaum muslimin di bulan Ramadhan beberapa hari
lamanya.

→ Namun setelah itu, darah kembali muncul. Apakah pada kondisi ini, ia harus
berbuka ?

→ Dan apakah mengharuskannya untuk mengqadha hari-hari yang ia telah berpuasa
dan berbuka padanya ?

✅ Jawaban:

● Apabila wanita nifas itu telah suci dalam empat puluh hari sehingga ia dapat berpuasa
beberapa hari

● namun kemudian darah itu kembali muncul dan ia masih dalam rentang empat
puluh hari,

● maka puasa wanita itu SAH, namun wajib baginya meninggalkan shalat dan puasa pada hari-hari di mana darah itu kembali muncul padanya.

● Karena itu adalah darah nifas sampai ia kembali suci atau telah sempurna menjadi empat puluh hari.

● Dan kapanpun ia telah menyempurnakan bilangan empat puluh hari (setelah
kelahiran), maka wajib baginya mandi meskipun belum melihat tanda suci.

● Karena empat puluh adalah bilangan akhir wanita nifas menurut salah satu pendapat yang paling shahih di
antara dua pendapat para ulama.

● Adapun setelah itu, wajib baginya berwudhu tiap kali hendak shalat sampai darah itu
berhenti sebagaimana perintah Nabi shallallahu a’laihi was salam kepada wanita yang
mengalami istihadhah.

● Dan bagi suaminya boleh menggaulinya setelah bilangan empat puluh hari meskipun belum terlihat tanda suci. → Karena darah dan kondisi yang telah disebutkan
merupakan darah fasad (rusak) yang tidak menghalangi shalat dan puasa, juga tidak
menghalangi sang suami untuk berhubungan dengan istrinya.

● Akan tetapi bila darah yang keluar setelah empat puluh hari itu bertepatan dengan kebiasaan haidhnya,
→ maka ia meninggalkan shalat dan puasa dan darah tersebut teranggap sebagai HAID.

Allah jualah Sang Pemberi taufik.
? Sumber: http://www.binbaz.org.sa/node/450
••••••••••••••••••••••

2. HUKUM PUASA WANITA NIFAS APABILA TELAH SUCI SEBELUM EMPAT PULUH HARI

❓ Pertanyaan:

→ Apakah boleh wanita nifas berpuasa, shalat, dan haji sebelum empat puluh hari
apabila telah suci ?

✅ Jawaban:

● Ya, ia boleh berpuasa, shalat, haji, „umrah, dan halal bagi sang suami untuk menggaulinya dalam empat puluh hari tersebut apabila ia telah suci.

● Bahkan kalaupun dalam dua puluh hari ia sudah suci, maka ia mandi, shalat, puasa, dan halal bagi suaminya.

? Adapun yang diriwayatkan dari „Utsman bin Abil „Ash bahwa beliau membenci hal
itu, maka hal itu dibawa kepada pengertian karahatu tanziih (makruh yang bersifat anjuran
meninggalkan dan bukan makruh untuk pengharaman).

● Dan itu merupakan ijtihad dari beliau
rahimahullah wa radhiyallahu „anhu dan tidak ada dalil atasnya.

Dan yang benar: hal itu tidak mengapa. Apabila ia telah suci sebelum empat puluh hari maka sucinya itu benar meskipun darah kembali muncul dalam empat puluh hari (setelah melahirkan).

● Dan yang benar, darah yang kembali muncul tersebut teranggap sebagai nifas dalam masa empat puluh hari akan tetapi puasa, shalat, dan hajinya yang telah lalu di saat keadaannya suci seluruhnya adalah benar (sah).

● Tidak ada sesuatupun yang perlu diulang
selama hal itu dikerjakan pada saat keadaannya suci.

? Sumber: http://www.binbaz.org.sa/node/447
••••••••••••••••••••••••

3. HUKUM SUNTIKAN BIUS (ANASTESI) DAN PEMBERSIHAN, PENAMBALAN ATAU PENCABUTAN GIGI KE DOKTER

❓ Pertanyaan:

→ Apabila seorang itu sakit gigi lalu merujuk ke dokter. Kemudian dokter itu membersihkan giginya, menambal, atau mencabut salah satu giginya, apakah hal itu
berpengaruh terhadap puasanya ?

→ Dan bagaimana seandainya dokter memberikan suntikan
untuk membius gigi, apakah hal itu juga berpengaruh terhadap puasanya ?

✅ Jawaban:

● Apa yang telah disebutkan dalam pertanyaan tidak berpengaruh terhadap keabsahan puasanya.

● Bahkan hal-hal tersebut termasuk diantara perkara yang dimaafkan.

● Hanya saja, wajib baginya untuk menjaga diri agar obat maupun darah tidak tertelan.

● Demikian juga dengan suntikan yang telah disebutkan, tidak berpengaruh terhadap keabsahan puasanya. Karena suntikan tersebut tidak semakna dengan makan dan minum. Dan
secara asal puasanya sah dan aman (tidak batal).
Sumber: http://
? www.binbaz.org.sa/node/496

? Mufti: Samahatu Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah

? Published By:
? Group BIS & BMS – Dakwah Untuk Umat ?

???????????

Diposting dan disebarkan kembali oleh Maa Haadzaa

Silahkan bergabung untuk mendapatkan info seputar kajian dan atau ilmu sesuai sunnah
Melalui:
Website https://www.maahaadzaa.com
Join Channel Telegram https://goo.gl/tF79wg
Like Facebook Fans Page https://goo.gl/NSB792
Subscribe YouTube https://goo.gl/mId5th
Follow Instagram https://goo.gl/w33Dje
Follow Twitter https://goo.gl/h3OTLd
Add BBM PIN:D3696C01
WhatsApp Group khusus Ikhwan https://chat.whatsapp.com/BOHXZjF0YnC5OKov560dnO
WhatsApp Group khusus Akhwat https://chat.whatsapp.com/Cplp2pJiPMs6C9POGojM1X

Silahkan disebarluaskan tanpa merubah isinya. Semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita.
Jazaakumullahu khairan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.