Review Kajian Maa Haadzaa: Hanya Dia Yang Berhak

0
684

Review Kajian Sunnah Maa HaaDzaa
Senin, 11 April 2016
Masjid Al-Ikhlas, Karang Tengah Permai
Ust. Dr. Khalid Basalamah, MA
PEMBAHASAN KITAB MINHAJUL MUSLIM

HANYA DIA YANG BERHAK

Manusia yang telah beriman kepada Rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala tentunya juga akan beriman pula kepada Uluhiyah Allah subhanahu wa ta’ala. Uluhiyah berasal dari kata ” Ilah ” yang berarti sesembahan. Sesembahan sendiri memiliki arti yaitu Dzat yang berhak untuk selalu dicintai, dihormati, dituruti, ditakuti, dan dipatuhi segala aturan yang telah dibuat-Nya

Lalu apa yang dimaksudkan dengan beriman kepada Uluhiyah-Nya ? Beriman berarti mengucapkan dengan lisan, meyakini dalam hati, dan mengaplikasikannya dengan anggota tubuh. Beriman kepada Uluhiyah-Nya berarti meyakini bahwa hanya Dia yang berhak untuk dipatuhi, dicintai, dihormati, dan ditakuti

Seperti api yang Allah ciptakan. Allah yang membuat api itu panas dan berkobar. Jika tidak ada campur tangan-Nya, maka api itu bisa jadi tidak terasa panas. Allah yang mengatur komposisi air dan Allah juga yang mengatur komposisi udara. Bayangkan jika kehidupan ini tidak ada campur tangan dari Allah subhanahu wa ta’ala ? Maka dunia ini akan berjalan dengan tidak teratur

Yang tidak beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala hanya segelintir manusia dan jin. Semua makhluk yang Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan tunduk dan patuh kepada Allah ta’ala baik dari yang kecil atau besar, yang terlihat atau yang tidak terlihat. Sekali lagi dijelaskan bahwa beriman kepada Uluhiyah Allah subhanahu wa ta’ala adalah meyakini bahwa hanya Dia yang berhak untuk disembah, dipuji, dicintai dan ditakuti

Terdapat dalil naqli dan dalil aqli yang menjelaskan tentang keuluhiyahan Allah subhanahu wa ta’ala
DALIL NAQLI

1. Kesaksian Allah sendiri, para malaikat, dan orang-orang yang diberi ilmu ( para ulama )

Tercantum pada firman-Nya, Surat Al-Imran ayat 18

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

” Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Allah yang menegakkan keadilan di muka bumi ini. Yang selalu memberikan porsi yang sesuai terhadap makhluk-Nya. Sebagai sebuah contoh, seorang wanita yang tidak memakai hijab di luar rumah. Kemudian wanita itu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat fardhu. Dia berwudhu, menggunakan mukena dan menutup auratnya, dan dia kerjakan shalat fardhu. Apakah shalatnya tidak sah ? Tentu saja sah. Itulah keadilan Allah subhanahu wa ta’ala. Membedakan perihal ibadah dengan keseharian. Allah berikan pahala ketika dia shalat dan tidak menjadikannya shalatnya tidak sah karena dia tidak menutup aurat

Contoh lain adalah seperti orang-orang kafir yang masih dapat menikmati makanan. Allah tidak membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang kafir dalam perihal keseharian hidup. Allah membedakan dengan keimanannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika orang-orang kafir tidak ada yang mendapat makanan dari Allah, maka tidak akan ada yang kufur kepada Allah subhanahu wa ta’ala

2. Informasi yang dibuat di dalam Al-Qur’an tentang Uluhiyah Allah

Terdapat pada Surat Al-Baqarah ayat 225 ( ayat kursi ) dengan firman-Nya :

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

” Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Dan pada Surat Al-Baqarah ayat 163 yang berbunyi :

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

” Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa
tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Musa ‘alaihis salam pada Surat Thaha ayat 14 :

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

” Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Dan Surat yang mahsyur yaitu Surat Muhammad ayat 19

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَىٰكُمْ

” Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.”

Dan Allah memperkenalkan dirinya dengan firman-Nya pada Surat Al-Hasyr ayat 22-23. Allah berfirman : ُ

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ(23)

” Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Allah memiliki sifat Maha Suci, Allah hanya memiliki yang baik-baik saja. Allah ciptakan jujur dengan dusta, Allah ciptakan derma dengan pelit, Allah ciptakan kaya dan miskin. Tetapi Allah subhanahu wa ta’ala hanya memiliki sifat-sifat yang baik saja
3. Berita dari para Rasul dan seruan kepada kaumnya tentang Uluhiyah Allah subhanahu wa ta’ala agar beriman dan beribadah kepada Allah semata

Terdapat pada firman-Nya Surat Al-A’raf ayat 59 :

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

” Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kalian tidak menyembah Allah), aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada salah seorang sahabatnya, Khabbab Ibn Al-Araats radhiyallahu anhu

Pernah pada suatu hari ia pergi bersama kawan-kawannya sependeritaan menemui Rasulullah SAW, bukan karena kecewa dan kesal atas pengorbanan, hanyalah karena ingin dan mengharapkan keselamatan.

Mereka berkata,”Wahai Rasulullah, tidakkah anda hendak memintakan pertolongan bagi kami?”

Rasulullah SAW pun duduk, mukanya jadi merah, lalu sabdanya: “Dulu sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher ke atas. Lalu diambil sebuah gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi siksaan demikian itu tidak sedikit pun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, juga tidak dapat menggoyahkan keimanannya. Sungguh Allah akan menyempurnakan hal tersebut, hingga setiap pengembara yang bepergian dari Shana’a ke Hadlramaut, tiada tahut kecuali pada Allah Azza wa Jalla.”

Orang yang tergantung dengan Allah subhanahu wa ta’ala akan selalu bergantung dan manja kepada Allah

Surat Al-A’raf ayat 65

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ

” Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka (Hud). Ia berkata “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain dari-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?”

Surat Al-A’raf ayat 73

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ هَـذِهِ نَاقَةُ اللّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللّهِ وَلاَ تَمَسُّوهَا بِسُوَءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan kepada kaum Thamud (Kami utuskan) saudara mereka: Nabi Soleh. Ia berkata: “Wahai kaumku! Sembahlah kamu akan Allah, (sebenarnya) tiada Tuhan bagi kamu selain daripadaNya. Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata (mukjizat) dari Tuhan kamu; ini adalah seekor unta betina (dari) Allah sebagai keterangan bagi kamu (membuktikan kebenaranku). Oleh itu, biarkanlah unta itu mencari makan di bumi Allah, dan janganlah kamu menyentuhnya dengan sesuatu yang menyakitinya; (kalau kamu menyentuhnya) maka kamu akan ditimpa azab seksa yang tidak terperi sakitnya. “

Dan Surat Al-A’raf ayat 85

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

” Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka Syu’aib. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Tuhan kalian. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kalian kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangan­nya, dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika betul-betul kalian orang-orang yang beriman.”

Hadits riwayat Tirmidzi yang dihasankan menjelaskan tentang ketergantungan hamba-Nya kepada Allah subhanahu wa ta’ala

“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah” [Riwayat At Tirmidzi.)

Allah subhanahu wa ta’ala lebih menyukai seseorang yang di kala dia sehat dia meminta kepada Allah untuk dipertahankan kesehatannya dibanding dengan saat dia sakit lalu dia meminta kesembuhan. Allah subhanahu wa ta’ala lebih menyukai seseorang di saat kaya minta ditambahkan rezekinya dibanding dengan saat dia bangkrut kemudian dia meminta dikembalikan hartanya

Ternyata manusia kebanyakan meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala di saat terdesak saja. Seharusnya kita lebih manja terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. Allah akan marah jika kita tidak meminta kepada-Nya. Bayangkan jika kita meminta kepada manusia. Beberapa kali kita meminta manusia itu akan marah, sedangkan Allah tidak. Allah akan marah jika kita tidak meminta kepada-Nya

Nabi Musa ‘alaihis salam berkata kepada Bani Israil dalam firman-Nya Surat Al-A’raf ayat 140 :

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

” Musa menjawab.”Patutkah aku mencari tuhan untuk kalian yang selain dari Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat.”

Dan Nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada firman-Nya Surat Al-Anbiya ayat 87 :

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

” Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
SEKILAS TENTANG KISAH NABI YUNUS ‘ALAIHIS SALAM

Nabi Yunus ‘alaihis salam adalah Nabi yang diutus bukan berasal dari kaumnya. Beliau diutus ke wilayah lain bernama Nainawa. Beliau berdakwah disana untuk pertama kalinya. Karena dianggap bukan berasal dari kelompok di wilayah tersebut, dakwah Nabi Yunus ‘alaihis salam di tolak. Kemudian Nabi Yunus ‘alaihis salam ingin berpidah ke wilayah lain untuk berdakwah. Dan ini merupakan sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh Beliau

Di saat Nabi Yunus ‘alaihis salam menaiki kapal untuk pindah ke wilayah lain untuk berdakwah, kapal itu diserang ombak besar dan badai yang besar. Seluruh barang-barang di kapal itu dibuang ke lautan dan harus ada orang juga yang dilempar ke dalam lautan. Setelah mengundi nama, maka nama yang keluar adalah nama Nabi Yunus ‘alaihis salam. Mereka tahu bahwa Nabi Yunus adalah Nabi Allah. Setelah ketiga kalinya diundi hasilnya tetap sama

Akhirnya Nabi Yunus ‘alaihis salam pasrah dan bersedia untuk dibuang ke dalam lautan. Saat Beliau meloncat ke dalam lautan, tidak disangka ada ikan paus besar yang menelannya. Maka Nabi Yunus hidup berada di dalam perut ikan paus tersebut selama berhari-hari. Kemudian Nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa kepada Allah agar diselamatkan dari perut ikan itu

Allah mengijabah doanya dan keluarlah Nabi Yunus ‘alaihis salam dari perut ikan itu. Beliau terdampar di sebuah pulau. Kemudian beliau mengambil kulit kayu untuk pakaiannya. Dan menemukan makanan ( labu ) untuk dimakannya. Pada saat itu, wilayah Nainawa diserang badai besar. Orang-orang yang berada disana pun sadar atas dakwah Nabi Yunus ‘alaihis salam. Mereka berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Nabi Yunus alaihis salam kembali ke Nainawa. Lalu badai pun berhenti. Saat Beliau kembali, puluhan ribu orang langsung beriman kepadanya dan beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala
DALIL AQLI

1. Jika semua makhluk berada di bawah Uluhiyahnya, bagaimana mereka bisa menyembah kepada makhluk yang tunduk kepada-Nya

2. Sifat-sifat Allah mengharuskan penghambaan manusia dengan anggota tubuhnya
PENUTUP

Beriman kepada Uluhiyah-Nya adalah meyakini sesembahan yang berhak disembah adalah hanya Allah ta’ala. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Bahwa yang berhak untuk dicintai, dihormati, dipuji, dikagumi, dan ditakuti hanya Allah semata. Bagi manusia yang beriman kepada Uluhiyah-Nya maka dia akan selalu bergantung kepada Allah saja dan selalu mengeluhkan atau mencurahkan hatinya kepada Allah saja

Dodi Darussalam – Maa Haadzaa

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.