Review Kajian Ilmiah – Sakitnya Tuh Di Neraka Bagian 3

0
930

Review Kajian Ilmiah Maa HaaDzaa
Senin, 24 Oktober 2016
Masjid Al-Ikhlas, Karang Tengah Permai
Ust. DR. Khalid Basalamah, MA

Pembahasan Kitab ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Berkisah Tentang Surga dan Neraka ”

===================

SAKITNYA TUH DI NERAKA ( part 3 )

===================

16. Keluarnya Manusia dari Neraka Karena Syafaat

Berimannya Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah meyakini adanya Surga dan Neraka. Manusia dapat keluar dari Neraka dengan syafaat dari Para Nabi-Nabi, orang-orang shaleh, dan yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki

Surat Thaha ayat 109, Allah berfirman :

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا

” Pada hari itu tidak berguna syafaat kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai perkataannya ”

Yang dimaksud dengan ” Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya ” adalah tidak sembarangan orang dapat memberi syafaat. Hanya orang-orang Mu’min yang lolos dari timbangan amal yang dapat memberikan syafaat kepada kerabatnya

Seseorang harus memiliki amal shaleh yang lebih banyak dibanding amal buruknya untuk bisa memberikan syafaat kepada orang lain. Bukan pahalanya yang diambil untuk memberikan syafaat, tapi hanya nilainya saja. Bahkan di akhirat nanti akan ada seseorang yang dapat memberi syafaat sebanyak satu suku Mudhor. Suku Mudhor adalah Suku Arab asli yang jumlahnya sangat banyak

Surat Az-Zukhruf ayat 86, Allah berfirman :

وَلا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

” Dan orang-orang yang menyeru kepada selain Allah tidak mendapat syafa’at (pertolongan di akhirat) kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini ”

Surat Az-Zumar ayat 44, Allah berfirman :

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

” Katakanlah, “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Akan masuk ahli surga ke surga, dan ahli neraka ke neraka, kemudian Allah memerintahkan ‘Keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari iman.’  Lalu dikeluarkan mereka dalam keadaan sudah hitam warna mereka, lalu dimasukkan ke dalam sungai kehidupan (nahrul hayat), maka tumbuhlah mereka itu bagai biji yang tumbuh setelah ada air bah, dan tidaklah tumbuhnya berwarna kuning berbelit (berkait)”. (H.R Bukhari – Muslim).

Masih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِيْنَ هُمْ أَهْلُهَا، فَإِنَّهُمْ لاَ يَمُوْتُوْنَ فِيْهَا وَلاَ يَحْيَوْنَ. وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوْبِهِمْ – أَوْ قَالَ : بِخَطَايَاهُمْ- فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً، حَتَّى إِذَا كَانُوْا فَحْمًا، أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ. فَجِيْءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ- ضَبَائِرَ، فَبُثُّوْا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ، ثُمَّ قِيْلَ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيْضُوْا عَلَيْهِمْ. فَيَنْبُتُوْنَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُوْنُ فِى حَمِيْلِ السَّيْلِ”.
فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ : كَأَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَدْ كَانَ بِالْبَادِيَةِ. –أخرجه مسلم فى صحيحه، وابن ماجة.

“Adapun ahli Neraka yang menjadi penghuni kekalnya, maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak hidup. Akan tetapi orang-orang yang ditimpa oleh siksa Neraka karena dosa-dosanya –atau Rasul bersabda, karena kesalahan-kesalahannya- maka Allah akan mematikan mereka dengan suatu kematian. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, Nabi diizinkan untuk memberikan syafa’at (kepada mereka). Lalu mereka di datangkan berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, lalu dimasukkan ke sungai-sungai di surga. Selanjutnya dikatakan (oleh Allah): “Wahai penghuni surga, kucurkanlah air kehidupan kepada mereka”. Maka tumbuhlah mereka laksana tumbuhnya benih-benih tetumbuhan di larutan lumpur yang dihempaskan arus air. Seseorang di antara sahabat berkata: “Seakan-akan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di padang gembalaan di suatu perkampungan”. (HR.Muslim dan Ibnu Majah)

Hadits ini menceritakan panjang lebar tentang syafaat.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan kepada keduanya, bahwa orang-orang berkata;

“Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat nanti?” Beliau menjawab: “Apakah kalian dapat membantah (bahwa kalian dapat melihat) bulan pada malam purnama, bila tidak ada awan yang menghalanginya?” Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian dapat membantah (bahwa kalian dapat melihat) matahari, bila tidak ada awan yang menghalanginya?” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau lantas bersabda: “Sungguh kalian akan dapat melihat-Nya seperti itu juga. Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat, lalu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa menyembah seseuatu, maka ia akan ikut dengannya.’ Maka di antara mereka ada yang mengikuti matahari, di antara mereka ada yang mengikuti bulan dan di antara mereka ada pula yang mengikuti thaghut-thaghut. Maka tinggallah ummat ini, yang diantaranya ada para munafiknya. Maka Allah mendatangi mereka dan lalu berfirman: ‘Aku adalah Rabb kalian.’ Mereka berkata, ‘Inilah tempat kedudukan kami hingga datang Rabb kami. Apabila Rabb kami telah datang pasti kami mengenalnya.’ Maka Allah mendatangi mereka seraya berfirman: ‘Akulah Rabb kalian.’ Allah kemudian memanggil mereka, lalu dibentangkanlah Ash Shirath di atas neraka Jahannam. Dan akulah orang yang pertama berhasil melewatinya di antara para Rasul bersama ummatnya. Pada hari itu tidak ada seorangpun yang dapat berbicara kecuali para Rasul, dan ucapan para Rasul adalah: ‘Ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.’ Dan di dalam Jahannam ada besi yang ujungnya bengkok seperti duri Sa’dan (tumbuhan yang berduri tajam). Pernahkah kalian melihat duri Sa’dan?” Mereka menjawab: “Ya, pernah.” Beliau melanjutkan: “Sungguh dia seperti duri Sa’dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya duri tersebut kecuali Allah. Duri tersebut akan menusuk-nusuk manusia berdasarkan amal amal mereka. Di antara mereka ada yang dikoyak-koyak hingga binasa disebabkan amalnya, ada pula yang dipotong-potong kemudian selamat melewatinya. Hingga apabila Allah berkehendak memberikan rahmat-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya dari penghuni neraka, maka Allah memerintahkan Malaikat untuk mengeluarkan siapa saja yang pernah menyembah Allah. Maka para Malikat mengeluarkan mereka, yang mereka dikenal berdasarkan tanda bekas-bekas sujud (atsarus sujud). Dan Allah telah mengharamkan kepada neraka untuk memakan (membakar) atsarus sujud, lalu keluarlah mereka dari neraka. Setiap anak keturunan Adam akan dibakar oleh neraka kecuali mereka yang memiliki atsarus sujud. Maka mereka keluar dalam keadaan sudah hangus terbakar (gosong), lalu mereka disiram dengan air kehidupan kemudian jadilah mereka tumbuh seperti tumbuhnya benih di tepian aliran sungai. Setelah itu selesailah Allah memutuskan perkara di antara hamba-hambaNya. Dan yang tinggal hanyalah seorang yang berada antara surga dan neraka, dan dia adalah orang terakhir yang memasuki surga di antara penghuni neraka yang berhak memasukinya, dia sedang menghadapkan wajahnya ke neraka seraya berkata, ‘Ya Rabb, palingkanlah wajahku dari neraka! Sungguh anginnya neraka telah meracuni aku dan baranya telah memanggang aku.’ Lalu Allah berfirman: ‘Apakah seandainya kamu diberi kesempatan kali yang lain kamu tidak akan meminta yang lain lagi? ‘ Orang itu menjawab: ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu, ya Allah! ‘ Maka Allah memberikan kepadanya janji dan ikatan perjanjian sesuai apa yang dikehendaki orang tersebut. Kemudian Allah memalingkan wajah orang tersebut dari neraka. Maka ketika wajahnya dihadapkan kepada surga, dia melihat taman-taman dan keindahan surga lalu terdiam dengan tertegun sesuai apa yang Allah kehendaki. Kemudian orang itu berkata, ‘Ya Rabb, dekatkan aku ke pintu surga! ‘ Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Bukankah kamu telah berjanji dan mengikat perjanjian untuk tidak meminta sesuatu setelah permintaan kamu sebelumnya?” Orang itu menjawab, ‘Ya Rabb, aku tidak mau menjadi ciptaan-Mu yang paling celaka.’ Maka Allah Azza Wa Jalla tertawa mendengarnya. Lalu Allah mengizinkan orang itu memasuki surga. Setelahitu Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Bayangkanlah! ‘ Lalu orang itu membayangkan hingga setelah selesai apa yang ia bayangkan, Allah berfirman kepadanya: ‘Dari sini.’ Dan demikianlah Rabbnya mengingatkan orang tersebut hingga manakala orang tersebut selesai membayangkan, Allah berfirman lagi: “Ini semua untuk kamu dan yang serupa dengannya.” Abu Sa’id Al Khudri berkata kepada Abu Hurairah, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman: ‘Ini semua untukmu dan sepuluh macam yang serupa dengannya.’ Abu Hurairah berkata, “Aku tidak mengingat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali sabdanya: “Ini semua untuk kamu dan yang serupa dengannya.” Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Sungguh aku mendengar Beliau menyebutkan: ‘Ini semua untukmu dan sepuluh macam yang serupa dengannya’.”

Sedikit dari kutipan ayat di atas, bahwasanya ada orang yang berjalan melewati Shirath dengan terkoyak oleh besi-besi tajam. Mereka adalah orang yang amalan buruknya lebih berat daripada amalan baiknya. Kemudian ia mendapat syafaat dari orang yang telah lolos dari timbangan amal sehingga ia selamat dari api Neraka

Allah subhanahu wa ta’ala akan mengizinkan orang yang telah lolos dari timbangan amal untuk memberikan syafaat kepada orang lain walau hanya memiliki kebaikan sebesar biji sawi

Surat An-Nisa ayat 40, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

” Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sekecil zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya. ”

Orang-orang Yahudi termasuk orang-orang yang akan dimasukkan ke dalam Neraka. Orang-orang Yahudi merasa mereka hebat. Dan ketika mereka ditanya ” apa yang kalian sembah dahulu? ” Maka mereka menjawab, ” kami menyembah Uzair, anak Allah” Maka dikatakan kepada mereka, ” kalian berdusta, Allah tidak mempunyai istri lagi mempunyai anak”. Kemudian ditawarkan kepada mereka, ” apa yang kalian inginkan? ” Mereka menjawab ” kami ingin minum “. Maka seketika itu mereka dimasukkan ke dalam Neraka

Hingga hanya orang-orang Mu’min yang tersisa dan ditanyakan kepada mereka, ” apa yang kalian tunggu? ” Mereka menjawab, ” kami dahulu menyembah Allah, maka kami sedang menunggu Allah”. Kemudian dikatakan kepada mereka, ” akulah Rabb kalian”.

Surat Hijr ayat 2, Allah berfirman :

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

” Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim ”

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang kafir mendapat penyesalan akibat kekafiran mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan, saat orang-orang kafir dikumpulkan bersama Ahli Kiblat ( maksudnya orang-orang Muslim yang masih memiliki dosa dan masuk Neraka untuk dibersihkan dosanya), kemudian orang-orang kafir bertanya kepada mereka, ” bukankah kalian dahulu Muslim? ” Mereka para Ahli Kiblat menjawab, ” betul, tapi kami masih memiliki dosa. ” Kelak para Ahli Kiblat akan dikeluarkan dari Neraka dan membuat orang-orang kafir menyesal akibat kekafirannya

————————————-

17. Utusan Neraka

Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu berkata,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Adam, “. Nabi Adam ‘Alaihissalam menjawab: “Labbaika, kemuliaan milik-Mu dan segala kebaikan berada di tangan-Mu”. Kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah utusan neraka”. Adam bertanya; “Apa yang dimaksud dengan utusan neraka? (berapa jumlahnya?) “. Allah berfirman: “Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh Sembilan dijebloskan neraka!, Ketika perintah ini diputuskan, maka anak-anak belia menjadi beruban, dan setiap wanita hamil kandungannya berguguran dan kamu lihat manusia mabuk padahal mereka tidaklah mabuk akan tetapi (mereka melihat) siksa Allah yang sangat keras”. (QS. Alhajj 2), Para shahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, adakah diantara kami seseorang yang selamat?”. Beliau bersabda: “Bergembiralah, karena setiap seribu yang dimasukkan neraka, dari kalian cuma satu, sedang Sembilan ratus sembilan puluh sembilannya dari Ya’juj dan ma’juj”. Kemudian Beliau bersabda: “Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap kalian menjadi di antara seperempat ahlu surga”. Maka kami bertakbir. Kemudian Beliau bersabda lagi: “Aku berharap kalian menjadi di antara sepertiga ahlu surga”. Maka kami bertakbir lagi. Kemudian Beliau bersabda lagi: “Aku berharap kalian menjadi di antara setengah ahlu surga”. Maka kami bertakbir sekali lagi. Lalu Beliau bersabda: “Tidaklah keberadan kalian di hadapan manusia melainkan bagaikan bulu hitam pada kulit sapi jantan putih atau bagaikan bulu putih yang ada pada kulit sapi jantan hitam”. (Bukhari, Muslim).

Dari hadits di atas, di antara 1000 orang yang akan dimasukkan ke dalam Neraka berjumlah 999 orang dan hanya satu orang yang selamat. Dan yang termasuk 999 orang tadi adalah dari golongan Ya’juj dan Ma’juj

————————————-

18. Perbantahan Surga dan Neraka

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

“Telah saling berbangga diri antara neraka dan surga. Neraka berkata; ‘Aku dimasuki oleh orang-orang pemaksa (penindas), orang-orang sombong dan raja-raja yang mulia.’ Dan surga berkata, ‘Aku dimasuki orang-orang fakir, orang-orang yang lemah dan orang-orang miskin.’ Maka Allah berfirman kepada neraka, ‘Kamu adalah siksa-Ku. Aku timpakan kepadamu siapa saja yang Aku kehendaki.’ Dan Allah berfirman kepada surga, ‘Kamu adalah rahmat-Ku yang luas meliputi segala sesuatu. Dan bagi masing-masing kamu ada pengisinya (yang menjadi isi sampai penuh).’ Bagi mereka akan ada yang dilemparkan ke dalamnya dan neraka berkata, ‘Apakah masih ada tambahan?’ sehingga Allah mendatangi neraka, kemudian meletakkan telapak kaki-Nya di atas neraka. Maka neraka itu jadi terlipat. Lalu neraka berkata, ‘Menyalalah, menyalalah.’ Adapun surga, akan dimasukan ke dalamnya siapa saja yang dikehendaki Allah. Allah akan memasukkan siapa saja yang dikehendaki-Nya ke dalamnya. ”

————————————–

19. Keabadian Neraka

Surat At-Taubah ayat 63, Allah berfirman :

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ذَلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ

” Tidakkah mereka (orang munafik) mengetahui bahwa barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itulah kehinaan yang besar ”

Salah satu yang dimaksud dengan orang munafik seperti ayat di atas adalah orang-orang yang memilih pemimpin kafir

Surat An-Nahl ayat 29, Allah berfirman :

فَادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

” Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kalian kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.”

Yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang kafir, munafik, dan musyrik

————————————-

20. Gambaran Tentang Shirath

Surat Yaasin ayat 66, Allah berfirman :

وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ

” Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; sehingga mereka berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka bagaimana mungkin mereka dapat melihat? ”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda :

ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ تَكُونُ بِنَجْدٍ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ

” Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam. Kami (para Sahabat) bertanya: “Wahai Rasûlullâh, bagaimana (bentuk) jembatan itu?”. Jawab beliau, “Llicin (lagi) mengelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Najd, dikenal dengan pohon Sa’dân …” [Muttafaqun ‘alaih]

Allahu a’lam

Dodi – Maa Haadzaa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.