Meraih Keikhlasan Illahi

0
666

Review Kajian Sunnah Maa HaaDzaa
Selasa, 2 Agustus 2016
Masjid Ash-Shaff, Distrik Emerald Bintaro
Ust. Firanda Andirja, MA

========================

MERAIH KEIKHLASAN ILLAHI

========================

Ikhlas secara teori adalah memurnikan ibadah karena Allah subhanahu wa ta’ala. Sebanyak apapun ibadah tanpa adanya keikhlasan tidak akan diterima amalnya. Banyak penyakit yang menginap di hati manusia. Pernah seorang ulama bernama Sofyan Ats-Tsauri rahimahulllah berkata :

” Aku tak pernah menghadapi sesuatu yang paling berat selain dari niatku. Karena niat selalu berubah-ubah ”

Orang yang ikhlas akan menimbulkan amalan-amalan yang tulus. Rasa ikhlas yang tertanam dalam hati tidak akan menimbulkan rasa dendam, hasad, atau dengki. Orang-orang shaleh pada zaman dahulu selalu berusaha menjaga keikhlasan mereka. Mereka tidak memerlukan pujian, penghormatan, dan penghargaan.

Syeikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahulllah berkata tentang ahli kitab :

” mereka bercerai-berai padahal mereka memiliki ilmu. Penyebabnya adalah karena hasad dan sombong ”

Jangan pernah merasa kita ikhlas jika di dalam hati masih ada rasa hasad dan dengki. Karena untuk mempertahankan keikhlasan itu sangatlah sulit

Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini. Surat Al-Imran ayat 152. Allah berfirman :

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

” Dan Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.”

Allah turunkan ayat ketika terjadi Perang Uhud. Ketika itu kaum Muslimin mengalami kekalahan karena ada beberapa orang sahabat yang menginginkan dunia dibanding akhirat. Keikhlasan mereka dalam berjihad luntur karena harta dunia. Tetapi sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah mengampuni mereka

Salah seorang sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata

” saya tidak menyangka ada sahabat Nabi yang menginginkan dunia sampai turun ayat dari Allah subhanahu wa ta’ala tentang Perang Uhud ”

Ikhlas bukan hanya ketika kita shalat, haji, sedekah, atau amal ibadah yang lainnya. Dakwah pun juga memerlukan keikhlasan. Dan keikhlasan adalah suatu yang berat dalam berdakwah

Jika berdakwah bukan karena yayasan, golongan, kelompok, atau panitia penyelenggara tetapi karena Allah semata, maka dakwahnya dinilai ikhlas. Namun, jika berdakwah bukan karena Allah semata, maka di saat ada perselisihan pendapat dan tidak sesuai dengannya, maka orang itu dijadikannya musuh

—————————————

IKHLAS

Dalam bahasa Arab, ikhlas berarti murni. Ibarat seperti susu sapi yang murni. Tidak tercampur dengan darah atau kotoran. Murni berarti tidak tercampur dengan segala sesuatu

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Musa ‘alaihis salam :

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَى إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيًّا {51} وَنَادَيْنَاهُ مِن جَانِبِ الطُّورِ اْلأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا {52} وَوَهَبْنَا لَهُ مِن رَّحْمَتِنَآ أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا {53}

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al-Kitab (al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami). Dan Kami telah menganugerahkannya kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang Nabi.” (QS. Maryam:51-53)

Kalimat مُخْلَصًا diartikan sebagai orang yang ikhlas.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salam :

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَن رَّأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

” Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu, andaikan dia tidak melihat tanda (dari) Rabb-nya. Demikianlah agar kami memalingkan daripadanya kemunkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba Kami yang terpilih.” [QS. Yusuf : 24].

Ketahuilah hanya agama Allah subhanahu wa ta’ala yang murni. Kemurnian itu juga dirasakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Allah subhanahu wa ta’ala menikahkannya langsung dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha

Allah berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 37 :

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا

” Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang telah Allah limpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia, supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan kita tentang kemurnian hati. Surat An-Nahl ayat 66,Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

{وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

” Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kalian. Kami memberi kalian minum dari apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang hendak meminumnya ”

Allah menerangkan bahwa susu dari binatang ternak itu murni tanpa tercampur sesuatu pun. Tidak tercampur darah atau kotoran

Ikhlas berarti seseorang yang beramal dan tidak mau ada saksi yang melihatnya dan tak mau mendapat balasan kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Ikhlas sangat berpengaruh terhadap pahala seorang manusia. Ada yang amalannya kecil menjadi besar, karena niatnya ikhlas. Ada juga yang amalannya besar menjadi kecil, karena niatnya tidak tulus

Sebagai pelajaran penting, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).

Dari hadits di atas, membuktikan amalan yang kecil jika dikerjakan dengan ikhlas maka akan menjadi pahala yang besar bagi pelakunya

Juga dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“ Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Bagaimana caranya agar kita bisa ikhlas? Salah satu caranya adalah dengan menyembunyikan amal shaleh. Az Zubair bin Al ‘Awwam radhiyallahu ‘anhu mengatakan :

“Barangsiapa yang mampu menyembunyikan amalan sholihnya, maka lakukanlah.”

Amal-amal shaleh yang boleh ditampakkan karena sebagai bentuk syiar seperti pergi ke masjid, mengeraskan adzan, mengeraskan takbir ketika malam Idul Fitri, dan mengenakan Jilbab bagi wanita

Banyak para salaf yang menyembunyikan amal shaleh mereka sehingga rasa ikhlas mereka timbul

Contohnya seperti mengerjakan Qiyamul Lail. Mereka mengerjakan Qiyamul Lail tapi saat dilihat seseorang saat Shubuh seakan-akan mereka tidur dengan sangat pulas

Begitu juga saat mereka berdakwah. Mereka berdakwah dengan jama’ahnya dan ketika dilihat oleh orang, mereka seakan-akan seperti berbincang-bincang layaknya obrolan biasa

Dan ketika mereka membaca Al-Qur’an, saat orang melihat mereka, mereka menutup Al-Qur’an mereka agar tidak terlihat sedang membaca Al-Qur’an

Zaman sekarang justru orang-orang sangat ingin menampakkan amal shaleh mereka. Mereka ingin diakui dan tampil di depan manusia. Hal seperti ini bisa membuat hilangnya keikhlasan dalam hati manusia

—————————————

RIYA’

Riya’ dalam bahasa Arab memiliki arti memperlihatkan amal shaleh. Ada beberapa hadits yang menerangkan bahwa riya’ memiliki bahaya yang sangat besar bagi pelakunya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,”Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”. [HR Ibnu Majah, no. 4204, dari hadits Abu Sa’id al Khudri. Hadits ini hasan-Shahih at Targhib wat Tarhib, no. 30]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ ، يَقُوْلُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُوْنَ فِيْ الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزاَءً ؟!

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?” [HR Ahmad, V/428-429 dan al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/324, no. 4135 dari Mahmud bin Labid. Lihat Silsilah Ahaadits Shahiihah, no. 951]

Dan ada tiga golongan manusia yang melakukan amalan yang besar tapi karena ia riya’ maka dilemparkan ke dalam api neraka. Mereka adalah golongan orang yang syahid karena ingin dianggap pemberani, orang yang mengajarkan Al-Qur’an karena ingin dianggap ‘alim, dan orang yang menginfakkan hartanya karena ingin dianggap dermawan

Haditsnya sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”

—————————————

PENUTUP

Sungguh terpuji orang-orang yang melakukan amal shaleh karena Allah semata . Tidak ingin di nomor satukan oleh manusia dan tidak ingin mendapat pengakuan dari manusia. Ia hanya mengharapkan pengakuan dari Allah subhanahu wa ta’ala atas keikhlasannya. Jadikan diri ini sebagai manusia yang ikhlas, dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan balasan Surga atas keikhlasan yang kita lakukan

Wallahu a’lam bish-showab

Dodi – Maa HaaDzaa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.