MENYEBUT-NYEBUT KEBAIKAN YANG PERNAH DILAKUKAN KEPADA ORANG LAIN

0
1493

Review Kajian Masjid Nurul Iman
Rabu, 7 September 2016
Masjid Nurul Iman Blok M Square
Ust. DR. Khalid Basalamah ,MA

Pembahasan Kitab Al-Kaba’ir
Dosa Besar ke-36

===================

MENYEBUT-NYEBUT KEBAIKAN YANG PERNAH DILAKUKAN KEPADA ORANG LAIN

===================

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dengan berimbang. Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan siang dan malam, laki-laki dan perempuan, agar semuanya berjalan dengan stabil. Begitu juga dengan pemberian yang Allah berikan kepada kita. Kita mendapat pemberian dan kita juga memberikan kepada orang lain. ini adalah sebuah hukum. Jika orang belajar ilmu dan ia bersyukur dengan pemberian itu, ia akan mengaplikasikannya dengan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain

Pemberian merupakan bentuk pembersihan dosa. Pembersihan dosa bisa seperti memberi makanan atau pakaian kepada orang lain. Dan itu semua menjadi konsep pembersihan dosa. Dalam melakukan pemberian, janganlah perhitungan dan mengharapkan pamrih. Jika kita mengharapkan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala, maka berikanlah sesuatu yang besar kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Jangan seperti orang yang sedang sakit kronis mengharapkan kesembuhan dari Allah dengan bersedakah dua ribu rupiah. Semuanya harus berimbang, terutama kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ada sebuah riwayat dimana Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma saat do’anya belum mendapat ijabah dari Allah, maka ia akan keluar rumah untuk bersedekah. Seperti bunyi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb [Allah] tabaroka wa ta’ala.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, lihat Shahih at-Targhib [1/532])

Bukan berarti saat kita menganggap memberi kepada orang lain di jalan Allah subhanahu wa ta’ala kita telah memberi manfaat kepada orang tersebut, tapi kitalah yang membutuhkan dia untuk jadi amal jariyah kita. Orang yang kita berikan adalah orang yang kita butuhkan. Di dalam Islam,melakukan pemberian juga memiliki batasan. Yaitu untuk tidak menyebut-nyebut apa yang sudah kita berikan kepada orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh kita untuk merendah (tawadhu). Katakan pada diri kita bahwa kitalah yang membutuhkan dia sebagai ladang pahala kita

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surat At-Taghabun ayat 17 :

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepada kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”.

Allah akan membalas setiap kebaikan dengan 10 kali lipatnya sampai 700 kali lipat. Maha Pemurah Allah dengan segala sesuatunya. Bayangkan jika kita bersedekah lima ratus ribu, Allah akan balas dengan lima juta atau lebih. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

( كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ )

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.”( H.R Muslim)

Jangan pernah menyebut-nyebut kebaikan kita karena syaithan sedang menungganginya ( orang yang suka menyebut-nyebut kebaikannya) agar pahala tidak bisa didapatkan. Karena syaithan pintar mengambil celah saat manusia hendak ingin melakukan amal shaleh

Surat Al-Baqarah ayat 264, Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. ”

Menyebut-nyebut kebaikan dapat menghilangkan pahala seseorang ketika beramal atau bersedekah. Termasuk menyakiti perasaan si penerima. Disini ada pengecualian yang tidak termasuk dosa ini. Jika seseorang memiliki hak atas pemberian itu maka orang itu boleh mengingatkan atau menyebut kebaikannya kepada orang yang diberi. Contohnya adalah hutang. Saat si penerima hutang belum mengembalikan apa yang dipinjamnya kepada orang yang memberi pinjaman, maka si pemberi pinjaman diperbolehkan menagih karena dia memiliki hak atas uang yang dihutangkan kepada penerima

Allah pasti akan membalas apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Ada sebuah riwayat tentang dua orang bersaudara yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta solusi. Sang adik berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ” Ya Rasulullah, kakakku sedang sakit perut. ” Maka Nabi menjawab, ” minumlah madu.” Setelah keduanya pulang ke rumah dan meminumkan madu kepada kakaknya, maka sang adik kembali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,” Ya Rasulullah, perut kakakku belum sembuh juga.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ” Allah pasti benar dan perut kakakmu berbohong”

Maksud dari riwayat di atas, janji Allah itu pasti dan tak mungkin salah. Orang yang meminum madu pasti sembuh tapi semua ada prosesnya. Tetap ada janji Allah pasti sembuh. Maka Allah pun akan membalas amal shaleh manusia dan itu pasti

Ancaman bagi orang-orang yang suka menyebut-nyebut kebaikannya kepada orang lain seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

” Ada tiga golongan orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan diperhatikan, dan tidak akan disucikan dan bagi mereka adzab yang pedih. Mereka adalah orang yang menyebut-nyebut pemberiannya, orang yang memanjangkan kainnya (karena sombong), dan orang yang melariskan kan dagangannya dengan sumpah palsu.”( H.R. Muslim)

Jika kita bisa mencegah perbuatan dosa ini maka segala sedekah kita akan menjadi keberkahan

————————————-

PENUTUP

Allah Maha Pemurah lagi Maha Kaya. Allah akan selalu membalas setiap perbuatan baik kita dan janji Allah itu pasti. Ketika kita telah melakukan amal shaleh seperti sedekah, maka merendahlah dan lupakanlah segala kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain. Jangan pernah menyebut-nyebut kebaikan kita karena hal itu akan membuat keberkahan atas amal shaleh kita hilang begitu saja

Allahu a’lam

Dodi – Maa HaaDzaa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.