Menuntut Ilmu Hanya Karena Dunia Dan Menyembunyikan Ilmu

0
941

Review Kajian Masjid Nurul Iman
Rabu, 31 Agustus 2016
Masjid Nurul Iman Blok M Square
Ust. DR. Khalid Basalamah, MA

PEMBAHASAN KITAB AL-KABAIR
Dosa Besar ke-35

=====================

MENUNTUT ILMU (HANYA) KARENA DUNIA DAN MENYEMBUNYIKAN ILMU

=====================

Ilmu agama adalah asas. Adalah orang yang konyol yang menjauhkan dirinya dari ilmu. Karena siapa yang menginginkan dunia, maka harus punya ilmu. Siapa yang menginginkan akhirat, juga harus punya ilmu. Dan siapa yang menginginkan keduanya maka harus punya ilmu. Karena itu ilmu disini sangatlah memegang peranan penting

Ilmu terbagi menjadi dua. Ilmu agama dan ilmu dunia. Ilmu agama adalah ilmu tertinggi. Dan ilmu dunia hanya pelengkap saja. Di zaman sekarang, justru manusia lebih banyak menjadikan ilmu dunia sebagai ilmu yang utama dan ilmu agama sebagai kulitnya saja ( penghias)

Padahal dalam kenyataannya, ilmu dunia hanya sebagai pelengkap atau penghias dari ilmu agama. Sebagai contoh, orang yang mempelajari dunia seperti ilmu pengetahuan alam akan terus mentadabburi bagaimana penciptaan alam semesta ini. Jika dia tidak memiliki ilmu agama, maka dia tidak akan bergantung kepada Tuhan-Nya yaitu Allah subhanahu wa ta’ala

Jangan sampai manusia berprestasi dalam ilmu dunia, tapi bernilai ” nol ” pada ilmu agamanya. Ilmu agama adalah asas dan wajib. Sedangkan yang melengkapinya adalah ilmu dunia. Ingatlah bahwa di akhirat nanti yang pertama kali akan dihisab adalah shalatnya. Akan sia-sia jika dia seorang Professor atau seorang Doktor tetapi dia tidak mengenal shalat

Ilmu ini (agama) mendatangkan nilai positif bagi yang mempelajarinya. Pepatah Arab mengatakan :

” tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan ‘alim ”

Ilmu agama tidak mengenal jenuh, malas, dendam, dan lelah. Otak tidak akan pernah lelah mempelajari ilmu agama. Dalam kitab Riyadhus Shalihin Kitabul Ilmi Al Imam An Nawawi menyebutkan hadits Nabi shallalahu ’alaihi wasallam

وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ:وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا,سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (H.R Muslim)

Dari hadits tersebut, dapat kita simpulkan bahwa siapa yang meniti ilmu dan ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju Surga

Orang-orang yang ikhlas dalam mempelajari ilmu agama akan menjadi amal jariyah bagi dirinya. Jika ia telah mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain sehingga orang yang diajarkan mendapat hidayah, berapa banyak pahala yang didapat? Berbeda halnya dengan orang-orang yang mempelajari ilmu agama karena dunia. Dia hanya mengincar jabatan dan hanya ingin dianggap ‘alim. Meskipun dia mencari ilmu sampai ke luar negri tapi yang dicari hanyalah dunia dan tidak berdakwah dengan ilmunya, maka tidak akan membekas untuk umat. Banyak orang yang belajar ilmu agama tapi tidak ada bekasnya di dunia dan tidak turun untuk berdakwah

Jika keikhlasan ditanamkan dalam mempelajari ilmu agama, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memberkahi ilmunya. Ilmunya akan bermanfaat bagi orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath No. 5787. Al Qudha’i, Musnad Syihab No. 129. Dihasankan Syaikh Al Albani. Lihat Shahihul Jami’ No. 6662. Dari Jabir radhiyallau ‘anhuma)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surat Fathir ayat 28 :

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

” Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. ”

Dan ada beberapa orang yang memiliki ilmu agama tetapi ia tidak mengajarkannya atau berdakwah dengannya. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 159, Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ

” Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati ”

Dan juga dalam Surat Al-Baqarah ayat 174, Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلا النَّارَ وَلا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

” Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah —yaitu Al-Kitab— dan menjualnya dengan harga yang sedikit, mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. ”

Surat Al-Imran ayat 187, Allah berfirman :

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَراءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

” Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kalian menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harta yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. ”

Beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang banyaknya orang yang tidak mendapat kebaikan di akhirat karena mempelajari ilmu agama karena dunia

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda :

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ

“Kemudian ada orang yang belajar agama dan mengajarkannya, serta membaca Al-Qur’an. Lalu orang itu didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya dan orang itu pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku telah belajar agama, mengajarkannya dan aku telah membaca Al Qur’an.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau belajar agama supaya disebut orang alim dan engkau membaca Al-Qur’an supaya disebut qari’ dan ucapan itu telah dilontarkan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah) sampai dia pun dilemparkan di neraka.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

« مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ »

“Barangsiapa yang menuntut ilmu karena hendak mendebat para ‘ulama, atau berbangga-bangga di hadapan orang-orang bodoh, atau ingin perhatian orang tertuju pada dirinya, maka Allah akan masukkan ia ke dalam an-Nar (neraka).” [HR. At-Tirmidzi (no. 2654), dari shahabat Ka’b bin Malik. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2654].

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berdo’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR . Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu)

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ لَمْ يَزِدْهُ إِلاَّ كِبْرًا

“Siapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka hanya kesombongan pada dirinya yang terus bertambah.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair, hlm. 75)

————————————–

PENUTUP

Ilmu agama sangat penting untuk dipelajari setiap manusia di muka bumi. Keikhlasan dalam mempelajari, mengamalkan, dan mengajarkannya akan menjadikan ilmu tersebut bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain. Ilmu tidak akan pernah ada habisnya dan tak akan terputus sampai kita meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Allahu a’lam bishowab

Dodi – Maa HaaDzaa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.