Mengkhianati Pemimpin Dan Lainnya

0
692

Review Kajian Ilmiah Nurul Iman
Rabu, 26 Oktober 2016
Masjid Nurul Iman, Blok M Square
Ust. DR. Khalid Basalamah, MA

Pembahasan Kitab Al-Kaba’ir
Dosa Besar ke-40

===================

MENGKHIANATI PEMIMPIN DAN LAINNYA

===================

Pemimpin adalah seseorang yang dibebankan beberapa perkara-perkara yang dipimpin. Ini semua merupakan kelaziman dalam Islam. Contohnya seperti Imam dalam shalat berjamaah. Jika Imam ruku’ maka Makmum juga ikut ruku’. Jika Imam sujud maka Makmum juga ikut sujud. Dan ketika seseorang safar, maka ia juga perlu dipimpin oleh seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَكُمْ.

“Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan” [Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2609). Disha-hihkan oleh Syaikh al-Albani t dalam Shahiihul Jaami’ (no. 763) dan Shahiih Sunan Abi Dawud (II/495).]

Suami juga merupakan pemimpin dalam rumah tangga. Ini adalah ruang lingkup yang kecil. Di dalam perang pun juga harus diangkat seorang pemimpin untuk memimpin perang. Seperti saat Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu yang baru saja 3 bulan masuk Islam kemudian diangkat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemimpin perang. Pada saat itu sahabat Umar bin Khattab tidak setuju. Namun, diangkatnya Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu atas perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pemimpin yang ideal untuk kaum Muslimin haruslah seorang Muslim, ‘alim ulama, dan tidak mengejar jabatan. Pemimpin yang seperti ini wajib dipatuhi. Jika perbuatan ini diamalkan maka akan menjadi bernilai ibadah. Kita mengenal syariat sebagai hukum-hukum dari Allah subhanahu wa ta’ala. Jika syariat ini bertemu dengan maslahat maka perlu dirincikan lagi oleh para ulama. Perlu dilihat dari segi maslahat dan mudharatnya. Jika syariat bertemu dengan mudharat, maka diambil yang mudharatnya lebih kecil, seperti contoh adalah pajak. Jika kita menolak membayar pajak, maka akan mendatangkan mudharat yang lebih besar. Jadi lebih baik pajak itu dibayar untuk menghindari mudharat yang lebih besar tadi dan dianggap sebagai sedekah. Namun, jika peraturan yang dibuat sampai menolak syariat, maka mudharat ini wajib ditolak karena berhubungan dengan hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Contoh, di sebuah sekolah dilarang untuk mengenakan Jilbab. Hal ini menolak syariat, maka wajib ditolak

Jika ada seseorang yang dipilih untuk menjadi pemimpin, maka pemimpin tersebut wajib dipatuhi. Namun, jika pemimpin tersebut memenuhi syarat untuk diberontak, maka wajib diberontak. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu,Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “ Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)

Jika kita lihat zaman sekarang, pemerintahan kita masih membolehkan kita untuk shalat, membangun masjid, meninggikan syariat Islam, dan lain-lain. Pemerintahan seperti ini belum memenuhi syarat untuk diberontak karena masih membawa maslahat untuk rakyatnya. Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda :

إنَّهَا سَتَكُوْنُ بَعْدِيْ أَثَرَة وأُمُوْر تُنْكِرُوْنَهَا قَالُوْا يَا رَسُْولَ الله كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan ada “atsarah” dan banyak perkara yang kalian ingkari dari mereka”. Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami yang menemuinya ?”. Beliau menjawab : “Tunaikan hak (mereka) yang dibebankan/diwajibkan atas kalian, dan mintalah hak kalian kepada Allah” [HR. Muslim no. 1843].

Yang dimaksud dengan “Al-Atsarah” adalah pemerintahan yang berbuat sewenang-wenang dengan urusan dunia rakyatnya ( penguasa yang dzhalim)

Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh kita untuk taat dan patuh pada peraturan. Allah berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat 34 :

وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولا

” Dan janganlah kalian mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan patuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya. ”

Maksud ayat di atas adalah semua orang wajib patuh pada perjanjiannya termasuk patuh dan taat kepada peraturan

Dan dalil lainnya terdapat pada Surat Al-Maidah ayat 1, Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

” Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. ”

Dan Surat An-Nahl ayat 91, Allah berfirman :

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

” Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah (kalian) itu sesudah meneguhkannya, sedangkan kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat.”

Termasuk janji kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menaati perintah pemerintah setempat

Terdapat hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang ciri orang munafik yang tidak mau patuh terhadap perjanjiannya
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسلم قالَ: أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا
خَالِصًا، وِمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَة ٌمِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ،
وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجََرَ (رواه البخاري ومسلم)

“Dari Abdullah ibn ‘Amr bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Empat sifat yang barang siapa mengerjakannya, maka ia menjadi munafik tulen, dan barang siapa yang melakukan salah satu dari empat sifat itu, maka di dalam dirinya terdapat sifat nifak sehingga ia meninggalkannya, yaitu: (1) apabila dipercaya, ia berkhianat, (2) apabila berbicara, ia dusta, (3) apabila berjanji, ia tidak menepati, dan (4) apabila bertengkar, ia curang (mau menang sendiri) (HR al-Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

“ فَكُلَّ غَادَرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ: هَذِهِ غُدْرَةُ فُلاَنٍ”/ متفق عليه

” Setiap penghianatan akan mendapat bendera di hari kiamat, disebutkan ini penghianatan si fulan dan ini penghianatan sifulan. “(HR. Bukhari Muslim)

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Ada tiga golongan di hari kiamat nanti yang akan menjadi musuh-Ku. Barangsiapa yang menjadi musuh-Ku, maka Aku akan memusuhinya. Pertama, seorang yang berjanji setia kepada-Ku, namun mengkhianatinya. Kedua, seorang yang menjual orang lalu memakan hasil penjualannya. Ketiga, seorang yang mempekerjakan seorang buruh, namun setelah pekerja tersebut menyelesaikan pekerjaannya, orang tersebut tidak memberinya upah.” (HR. Ibnu Majah).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.” [HR. Al-Bukhari (no. 7137), Muslim (no. 1835 (33)), Ibnu Majah (no. 2859) dan an-Nasa-i (VII/154), Ahmad (II/252-253, 270, 313, 511), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (X/41, no. 2450-2451), dari Sahabat Abu Hurairah ]

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa membaiat seorang imam, meletakkan tangannya dan menyerahkan buah hatinya, hendaklah ia mentaatinya semaksimal mungkin. Dan jika datang orang lain hendak merampasnya maka penggallah leher orang itu” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda :

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ ، إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa yang melihat pada pemimpinnya suatu perkara ( yang dia benci ), maka hendaknya dia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah satu jengkal saja kemudian dia mati,maka dia mati dalam keadaan jahiliyyah.” (HR. Bukhari)

Yang dimaksud dengan perkara yang dibenci seperti fisiknya, sifatnya, atau tingkah lakunya, maka kita diperintahkan untuk bersabar

————————————-

PENUTUP

Pemimpin adalah seseorang yang telah diberi amanah untuk mengurus semua perkara-perkara rakyatnya. Dan sebagai rakyat wajib mematuhi perintah seorang pemimpin selama perintahnya bukanlah untuk bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Manusia telah terikat dengan perjanjian kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mematuhi perintah-Nya dan juga mematuhi perintah para pemimpin. Bersabarlah jika sekiranya kita dipimpin oleh orang yang dzhalim, karena Allah memerintahkan kita untuk patuh kepadanya selama masih membawa kemaslahatan dan tidak bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya

Allahu a’lam

Dodi – Maa HaaDzaa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.