Kisah Sahabat: Salim Maula Abu Hudzaifah Radhiyallahu Anhu

0
875

Ringkasan Kajian Masjid Nurul Iman Blok M Square
Ust. Dr. Khalid Basalamah, MA

Kisah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
SALIM MAULA ABU HUDZAIFAH RADHIYALLAHU ‘ANHU

Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu guru Al-Quran dari para sahabat, Salim Maula Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu

# HUKUM MAULA
Hukum kemaulaan merupakan hubungan langsung seorang hamba sahaya dengan tuannya. Adanya perbudakan di dalam Islam dimulai dari peperangan. Saat terjadi kancah peperangan, pasukan yang kalah akan menjadi tawanan perang dan dijadikan budak.

Sebelum Islam hadir pada zaman itu, perbudakan sudah ada dimana-mana. Namun, budak diperlakukan dengan kasar. Ada yang dibunuh, diperkosa, ditindas, bahkan ada yang dipotong bagian tubuhnya sebagai bentuk kedzaliman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang manusia mendzalimi budaknya.

Dalil tentang perbudakan ada pada Surat Muhammad ayat 4 yang berbunyi :

فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ۚ ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ ۗ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka”.

Perbudakan tidak hanya terjadi pada  kaum Muslimin, tetapi juga terjadi pada kaum yang lain. Jika mereka (para tirani) menguasai suatu wilayah, maka seluruh orang yang ada di wilayah itu menjadi budak. Setelah Islam ada, para budak diperlakukan dengan baik

HUKUM-HUKUM SYAR’I DALAM PEPERANGAN

*Husnul Muamalah ( berbuat baik)
Yang dimaksud adalah berbuat baik kepada tawanan perang. Firman Allah subhana wa ta’ala dalam Surat An-Nisaa ayat 36 :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,”

Namun apabila tawanan perang memiliki hubungan rahim (kerabat) maka tawanan itu harus dibebaskan. Sebagai contoh, sebuah pasukan menyerang tanah kelahirannya, dan disana terdapat kerabatnya, maka kerabatnya itu harus dibebaskan. Seperti saat kaum Muslimin mendatangi Mekkah.

Hadits Bukhari menjelaskan tentang pembebasan hamba sahayanya.

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَكُّوا الْعَانِي وَ أَطْعِمُوا الْجَائِعَ وَعَوِّدُوا الْمَرِيْضَ.

Dari Abu Musa ia berkata, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Bebaskan tawanan, beri makan orang yang lapar dan jenguklah orang yang sakit”.

Pembebasan setengah hak hamba sahaya

Sebagai contoh, jika si A dan B membeli budak dengan harga 10 juta rupiah, si A membayar 5 juta dan si B membayar setengahnya juga, maka dengan perjanjian budak tersebut akan bekerja kepada kedua tuannya dengan adil. Saat si A memilih untuk membebaskan budaknya, dia hanya bisa membebaskan setengah hak budaknya untuk bebas, setengahnya lagi ada pada tuannya yang satu lagi. Namun, jika si A mempunyai kelebihan harta untuk membebaskan setengah hak nya lagi, maka kebebasan budak itu menjadi sepenuhnya.

*Menjadikannya sebagai pahala karena membebaskan budaknya
Firman Allah subhana wa ta’ala :

SURAH AL-BALAD AYAT 10-17

…وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ {10} فَلاَ اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ {11} وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ {12} فَكُّ رَقَبَةٍ {13} أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ {14} ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ {17}

10) Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan
11) Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar
12) Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
13) (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan
14) Atau memberi makan pada hari kelaparan
17) Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang

Budak mempunyai hak untuk bebas, dalam istilah disebut dengan Mukatabah
Mukatabah adalah hak budak meminta kebebasan kepada tuannya. Tuannya tidak boleh menolak permintaan budaknya selama sang budak mempunyai kebaikan dan tidak membawa mudharat

Firman Allah subhana wa ta’ala :

Surat At Taubah Ayat 60

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Budak yang beriman pun mempunyai hak untuk bebas. Budak yang beriman adalah budak yang sebelumnya didakwahkan dan mengenal Islam sebelum dia bebas. Siapa yang membebaskan budak yang beriman, akan dapat pahala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Hadits riwayat Ahmad yang berbunyi :

Dari al-Barra bin Azib, dia berkata: Seseorang datang lalu bertanya, “Wahai Rosululloh, tunjukkanlah aku suatu perbuatan yang dapat mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka!” Maka Nabi saw bersabda: “Bebaskanlah raga dan lepaskanlah budak.” Kemudian orang itu berkata: “Wahai Rosululloh, bukankah kalimat itu menunjukkan satu perbuatan?” Beliau menjawab: “Tidak. Membebaskan raga berarti kamu memerdekakannya (budak). Melepaskan budak berarti kamu sendiri menentukan harga pembeliannya (dari penjual budak, untuk dimerdekakan).” (HR Ahmad). [Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 2. Muhammad Nasib Ar Rifa’i. Jakarta: Gema Insani, 1999. hal. 623.].

#MENGANGKAT BUDAK MENJADI ANAK ANGKATNYA

Istri dari Abu Hudzaifah membeli Salim saat masih kecil di pasar perdagangan budak. Lalu Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Kemudian setelah Salim baligh, Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu mengangkatnya sebagai anak angkatnya. Namanya berubah menjadi Salim Maula Abu Hudzaifah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mempunyai budak bernama Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Lalu dibebaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu ketika, ayahnya Zaid datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta anaknya Zaid kembali kepadanya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta Zaid untuk memilih. Dan pilihan Zaid jatuh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjadi ayah angkatnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengubah namanya menjadi Zaid Ibn Muhammad

Turun Firman Allah subhana wa ta’ala :

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا {40}

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.al-Ahzab:40)

Ibn Katsir berkata, “Setelah turun ayat ini, Allah melarang ada panggilan Zaid bin Muhammad, yakni beliau bukanlah ayahnya sekali pun telah mengangkatnya sebagai anak (adopsi).

Firman Allah subhana wa ta’ala juga turun saat Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu mengangkat Salim sebagai anaknya :

”…….  Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu”.(QS.AlAhzab(33):5).

Jika budak yang diangkat menjadi anak tuannya adalah budak perempuan, maka akan menjadi mahram tuan laki-lakinya. Begitu juga sebaliknya. Jika budak yang diangkat adalah budak laki-laki, maka akan menjadi mahram tuan perempuannya

#BOLEH MENIKAHI MANTAN PASANGAN ANAK ANGKATNYA

Kisah Zainab binti Jahsy yang menikah dengan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Zainab datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta pendapat siapa yang pantas untuk menikah dengannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu untuk menikahi Zainab. Namun, di hati Zainab agak sedikit keberatan karena Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu adalah mantan budak, sedangkan Zainab adalah anak dari kepala suku.

Setelah menikah, mereka mengalami ketidak cocokan. Ringkas cerita, mereka bercerai atas kehendak Allah subhana wa ta’ala. Lalu Allah subhana wa ta’ala dengan kehendak-Nya menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Zainab tanpa akad. Firman Allah subhana wa ta’ala :

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37)

Jikalau seorang ibu tidak bisa menyusui anak kandungnya karena ASInya tidak keluar, maka boleh disusui oleh wanita lain. Tapi harus jelas siapa yang menyusuinya baik dari namanya atau identitasnya

Kisah Sahlah radhiyallahu ‘anha ( istri Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu). Semenjak ia membeli Salim radhiyallahu ‘anhu, ia tidak pernah menyusuinya sampai ia baligh. Sahlah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana hukumnya, karena tidak ada ikatan rahim tinggal di tempat tinggal yang sama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: جَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ اِلَى النَّبِيِّ ص فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنِّى اَرَى فِى وَجْهِ اَبِى حُذَيْفَةَ مِنْ دُخُوْلِ سَالِمٍ (وَ هُوَ حَلِيْفُهُ). فَقَالَ النَّبيُّ ص: اَرْضِعِيْهِ. قَالَتْ: وَ كَيْفَ اُرْضِعُهُ وَ هُوَ رَجُلٌ كَبِيْرٌ؟ فَتَبَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ قَالَ: قَدْ عَلِمْتُ اَنَّهُ رَجُلٌ كَبِيْرٌ. مسلم

Dari ‘Aisyah, ia berkata : Sahlah binti Suhail (istri Abu Hudzaifah) datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku melihat perubahan wajah Abu Hudzaifah berkenaan dengan keberadaan Salim di rumah kami, bagaimanakah yang demikian itu ?”. (Salim adalah anak angkatnya). Nabi SAW bersabda, “Susuilah dia !”. Sahlah berkata, “Bagaimana aku menyusuinya sedangkan dia adalah seorang laki-laki yang sudah besar ?”. Maka Rasulullah SAW tersenyum lalu bersabda, “Aku tahu dia itu seorang laki-laki yang sudah besar”. [HR. Muslim

Maksud dari hadits ini adalah Sahlah radhiyallahu ‘anha mengeluarkan susunya dan ditampung di sebuah wadah untuk diminum oleh Salim radhiyallahu ‘anhu. Jika sampai dia kenyang, maka akan menjadi mahramnya

KISAH SALIM MAULA ABU HUDZAIFAH

Salim Maula Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menikah dengan sepupu dari Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu sendiri, yaitu Fatimah binti Walid bin Utbah. Salim Maula Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu termasuk ke dalam Assabiqunal Awalun minal Muhajirin.

Salim selalu hadir dalam setiap peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam. Termasuk saat perang Badr. Allah subhana wa ta’ala telah menjanjikan siapapun yang ikut dalam Perang Badr, maka segala dosa-dosanya akan terampuni dan masuk Surga

Salim Maula Abu Hudzaifah adalah guru Al-Quran dari semua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat Abu Hudzaifah radiyallahu ‘anhu hijrah ke Habasyah, Salim tidak ikut bersamanya. Salim memutuskan untuk menetap di Mekkah untuk duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belajar Al-Quran.

Banyak orang yang cemburu jika tetangganya mempunyai kekayaan yang melimpah, mobil mewah, rumah megah, dan lain-lain. Padahal yang harusnya dicemburui itu adalah dua hal saja
* Seseorang yang dikaruniai Al-Quran lalu dia membacanya setiap malam dan siang
* Seseorang yang dikaruniai harta yang dihabiskan di jalan Allah subhana wa taala setiap malam dan siang

Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, beliau memberi perintah untuk membangun Masjid Quba. Lalu beliau meminta Salim radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi Imam shalat disana. Padahal dibelakangnya ada Abu Bakr dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma yang sekiranya lebih pantas menjadi Imam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

dari Abdullah bin Amru ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Pelajarilah Al Quran dari empat orang: dari Abdullah bin Mas`ud, Salim (maula Abi Huzaifah), Mu`adz, dan Ubay bin Ka`b.” Dua yang pertama adalah dari kalangan muhajirin.”

Dari hadits tersebut, membuktikan betapa mulianya kedudukan Salim radhiyallahu ‘anhu di mata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Hukum menjadi Imam

Yang pertama yang pantas menjadi Imam adalah :
* Yang paling alim
* Yang paling fasih bacaan Al-Qurannya dan tajwidnya serta hafalannya
* Yang lebih paham sunnah

Ada sebuah riwayat yang menceritakan tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mendengar bacaan Al-Qur’an Salim radhiyallahu ‘anhu :

Suatu malam, ketika Aisyah RA terlambat pulang, Rasulullah SAW menegurnya dengan lembut tapi tegas. ”Maaf ya Rasulallah,” kata Aisyah dengan nada hormat, ”aku terlambat pulang karena menyimak seseorang membaca Quran di masjid. Bacaannya bagus, suaranya merdu. Aku belum pernah mendengar suara semerdu itu.”
Penasaran, Rasulullah lalu pergi ke masjid dan mendengarkan bacaan Quran yang diceritakan istrinya. Tak lama Nabi kembali dengan wajah senang. ”Dia Salim, budak Abu Huzaifah,” kata Rasulullah kepada Aisyah. ”Segala puji bagi Allah yang telah menjadilan orang yang suaranya merdu seperti suara Salim itu sebagai umatku.”

Rasulullah shallallahu *alaihi wasallam memastikan keimanan Salim radhiyallahu ‘anhu. Suatu ketika di Madinah terdengar suara gemuruh seperti suara pasukan akan menyerang Madinah. Seluruh masyarakat Madinah ketakutan.

Lalu Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu melihat Salim sedang duduk di depan pintu gerbang Madinah sambil memeluk lututnya dan memegang sarung pedangnya yang sudah siap menghunuskan pedangnya. Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Salim radhiyallahu ‘anhu. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat pemandangan itu. Dan beliau meyakini akan keimanan mereka yang pemberani dan tidak takut mati karena Allah

Salim radhiyallahu ‘anhu mati dalam keadaan syahid saat Perang Yamamah yang dipimpin oleh Musailamah Al-Kadzab. Salim adalah pemegang bendera, panji-panji untuk kaum Muslimin. Saat Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu tertusuk oleh musuh, lalu beliau berkata, “dimana saudaraku Salim?.” Begitu juga Salim radhiyallahu ‘anhu saat tertusuk oleh musuh, ia berkata,”dimana saudaraku Abu Hudzaifah?”

Kemudian pasukan Muslimin yang lain menopang Salim menuju jasad Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang sudah tergeletak dan bersimbah darah. Mereka saling berhadapan dan meninggal dunia karena syahid.

Semoga kisah ini bermanfaat untuk kita semua, agar kita selalu bisa memuliakan Al-Qur’an dalam kehidupan kita di dunia sampai di akhirat kelak

Wassalam

Dodi Darussalam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.