Kiat-kiat Istiqomah Pasca Ramadhan

0
637

Review Kajian Sunnah Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq
Selasa, 19 Juli 2016
Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq
Ust. Firanda Andirja, MA

=====================

Kiat-kiat Istiqomah Pasca Ramadhan

=====================

Pada saat bulan Ramadhan kita masih sangat bersemangat mengerjakan ibadah-ibadah wajib maupun Sunnah. Namun, setelah bulan Ramadhan pergi, sebagian besar semangat untuk mengerjakan kebajikan semakin menurun

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila telah masuk bulan Ramadhan, terbukalah pintu-pintu surga dan tertutuplah pintu-pintu neraka dan setan-setan pun terbelenggu.” (HR. Bukhari Muslim)

Yang dimaksud dengan terbukanya pintu-pintu Surga adalah banyak amal kebaikan yang dikerjakan di saat bulan Ramadhan. Pintu-pintu Neraka ditutup karena sedikit sekali celah untuk berbuat maksiat

Barang siapa yang istiqomah maka akan selamat sampai ke Surga

Dalam sebuah riwayat,dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?’ Abu Bakar menjawab, ‘Saya.’ Lalu Rasulullah bertanya kembali, ‘Siapa di antara kalian yang hari ini telah mengiringi jenazah?’ Abu Bakar menjawab, ‘Saya.’ Rasulullah pun melanjutkan pertanyaannya dan berkata, ‘Siapa di antara kalian yang telah memberi makan kepada orang miskin?’ Abu Bakar menjawab lagi, ‘Saya.’ Rasulullah pun bertanya kembali, ‘Siapa di antara kalian yang telah menjenguk orang yang sakit?’ Abu Bakar kemudian menjawab, ‘Saya.’ Mendengar itu semua Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah semua hal tadi terkumpul dalam diri seseorang, kecuali ia akan masuk surga’.” (HR. Muslim)

Kita sering berdo’a untuk tetap Istiqomah. Apakah kita sungguh-sungguh dalam mengucapkannya?

Kiat-kiat agar kita tetap Istiqomah dalam beribadah setelah perginya bulan Ramadhan

————————————–

1. Memperbanyak Do’a

Setiap kita melaksanakan shalat sering kita ucapkan do’a agar kita tetap Istiqomah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”(Q.S Al-Fatihah 1 : 6)

Do’a tersebut kita ucapkan di antaranya ada dua faktor
1. Diucapkan karena belum berada di jalan yang lurus
2. Diucapkan karena sudah berada di jalan yang lurus, tapi meminta agar tetap istiqomah

Tatkala di saat kita shalat mengucapkan do’a itu tidak hanya di lisan saja, tapi juga tetap Istiqomah dalam menjalankan ibadahnya

Ada do’a lain yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan di antaranya :

يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”
[HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792]

يا مقــلـب لقــلــوب ثبــت قــلبـــي عــلى طـا عــتـك

“Wahai Dzat yg membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu”
[HR. Muslim (no. 2654)]

Dari do’a-do’a yang disunnahkan, kita meminta agar hati kita tetap teguh dalam keistiqomahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا وَهُوَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Tidak ada satu hati pun kecuali ia berada di antara dua jari dari Jari-Jemari Rabb semesta alam.

إِنْ شَاءَ أَنْ يُقِيمَهُ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ أَنْ يُزِيغَهُ أَزَاغَهُ

Jika Dia ingin memberikannya keistiqamahan niscaya Ia akan berikan keistiqamahan padanya. Dan jika Dia ingin memalingkannya (dari Islam) niscaya akan dipalingkan-Nya dari Islam.”

Hati manusia sangat mudah sekali berubah-ubah, maka darinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering kali mengucapkan do’a tersebut

Banyak orang yang menganggap dirinya cerdas, sehingga ia menganggap ia mendapat hidayah karena kecerdasannya. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu atau yang akan datang mengatakan, hidayah itu semata-mata dari Allah subhanahu wa ta’ala

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat mengislamkan pamannya Abu Thalib, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam juga tidak dapat memberi hidayah kepada ayahnya sendiri. Nabi Nuh ‘alaihis salam tidak dapat memberi hidayah kepada anaknya. Bahkan manusia setingkat Nabi tidak dapat memberi hidayah kecuali dari Allah subhanahu wa ta’ala

Hidayah murni dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ada seorang kafir yang pernah diikat di Masjid Nabawi selama tiga hari. Setelah ditemui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari pertama, orang kafir itu belum beriman. Sampai di hari kedua juga tidak beriman. Kemudian di hari ketiga saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskannya, orang kafir itu mengucap syahadat. Sebabnya karena ia selalu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ceramah di Masjid Nabawi hingga ia mendapatkan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala

Hati sangat mudah berubah-ubah. Banyak perkara yang dapat membuat hati berubah. Maka dari itu, kita harus lebih sering memperbanyak do’a agar kita tetap istiqomah

————————————

2. Terus menerus Melakukan Amal Shaleh

Dari Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

Segala amalan ibadah yang dilakukan kontinu lebih baik daripada dikerjakan banyak tapi tidak Istiqomah

Lebih baik membaca Al-Qur’an satu hari satu halaman tetapi rutin dibaca setiap hari dibandingkan membaca satu Juz tapi keesokannya tidak dibaca lagi

————————————–

3. Memiliki Sahabat-Sahabat yang Shaleh

Mencari sahabat yang mengingatkan tentang perkara dunia sangat banyak. Tetapi mencari sahabat yang mengajak dalam kebaikan dan mengingatkan akhirat itu jarang sekali

Pepatah Arab pernah mengatakan :
” sahabat itu menarik ( menyeret ) ”

Saat bertemu sahabat, harus ada sinkronisasi antara kedua orang tersebut. Jika sahabat mengajak dalam kebaikan maka kita akan ikut dalam kebaikan juga

————————————–

4. Sering Berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 41 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

” Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. ”

Syaithan akan menjauh dari orang yang memperbanyak dzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallohi wa bihamdihi dan Subhanallohil ‘Azhim.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6406, 6682, dan Muslim, 2694).

————————————–

5. Menjalankan Sunnah Nabi

عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ».

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.” ( Bukhâri, no. 6502; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ , I/34, no. 1; al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra, III/346; X/219 dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 1248 )

Maksud dari Allah berfirman ” Aku menjadi pendengarannya…” adalah Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaga pendengarannya dari hal yang diharamkan untuk didengar. Begitu juga ketika Allah berfirman ” …menjadi penglihatannya…” maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaga pandangan hamba-Nya dari segala yang diharamkan untuk dilihat

————————————-

6. Membaca Sejarah Orang-orang Shaleh

Membaca kisah-kisah para Nabi, sahabat, Imam-Imam Madzhab, dan sejarah orang shaleh lainnya membuat kita terhindar dari penyakit ujub. Saat membaca kisahnya, kita akan tahu kadar keimanan kita dan kita ternyata tidaklah lebih baik dari orang-orang shaleh sebelum kita

————————————-

PENUTUP

Istiqomah dalam beribadah dapat kita capai jika kita mau mempertahankan keistiqomahan tersebut. Manusia sangatlah mudah berubah hatinya jika hati tidak pernah dicharge dengan keimanan. Semoga kita tetap Istiqomah sampai kita semua bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.