Kemukjizatan

0
625

Review Kajian Sunnah Maa Haadzaa
Senin, 1 Agustus 2016
Masjid Al-Ikhlas, Karang Tengah Permai
Ust. Dr. Khalid Basalamah, MA

Pembahasan Kitab Minhajul Muslim
Pasal 9
BERIMAN KEPADA KERASULAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

====================

KEMUKJIZATAN

====================

3. Berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kenabiannya sebagai penutup para Nabi

Kisah seorang mantan Yahudi bernama Buhaira yang sekarang menjadi pendeta Nasrani yang menunggu kedatangan Nabi penutup yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dirawat oleh pamannya Abu Thalib semenjak umur 12 tahun. Ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal ketika Muhammad berumur 6 bulan dan ibunya meninggal saat beliau berumur 6 tahun. Dan akhirnya saat berumur 12 tahun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dirawat oleh pamannya yang bernama Abu Thalib

Suatu ketika Abu Thalib hendak pergi berdagang ke negri Syam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu masih kecil menangis karena ingin ikut pergi dengan pamannya. Dalam riwayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bergelantungan di baju Abu Thalib

Akhirnya dibawalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut dengan Abu Thalib. Di salah satu kota di negri Syam, Buhaira sedang memperhatikan para kafilah-kafilah yang berdatangan dari tempat lain dari atas gerejanya. Buhaira sudah mengetahui bahwa Nabi penutup yang di ramalkan dalam kitab Injil berasal dari Jazirah Arab

Sebelumnya Abu Thalib juga sudah diceritakan oleh pendeta Yahudi, bahwa Nabi terakhir akan datang dari Jazirah Arab dan namanya adalah Muhammad. Dan ternyata Abu Thalib mendapati keponakannya dengan diberikannya nama Muhammad kepadanya

Saat kafilah Abu Thalib melewati gereja Buhaira, awan senantiasa menaungi para kafilah tersebut yang di dalamnya ada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pohon kurma pun daun-daunnya seakan menunduk saat mereka lewat. Buhaira kemudian heran melihat pemandangan itu dan mengundang mereka untuk makan

Abu Thalib bersama para kafilahnya menerima undangan tersebut. Tetapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan di luar. Bagi mereka, adalah sebuah aib jika anak kecil ikut makan bersama dengan orang-orang tua. Saat Buhaira memperhatikan para kafilah itu, tidak ada satupun yang menunjukkan ciri-ciri kenabian. Kemudian Buhaira bertanya, ” apakah masih ada orang dari kalian yang belum ikut masuk? ” Abu Thalib menjawab, ” Ada. Dia seorang anak kecil”
Buhaira kembali bertanya, ” bolehkah saya bertemu dengannya? ” .Kata Abu Thalib, ” ya, kami persilahkan”

Saat Buhaira melihat ciri-ciri fisiknya, Buhaira menemukan tanda kenabian di pundak Nabi seperti gumpalan daging yang ditumbuhi dengan bulu yang lebat

Kemudian Buhaira bertanya dengan menyebut nama berhala Quraisy, ” Demi Latta dan Uzza, jawablah dengan jujur”. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ” jangan kau sebut nama dua berhala itu”. Buhaira kebingungan, karena baru pertama kali ada orang Quraisy yang tidak berkeyakinan terhadap berhala

Kemudian Buhaira bertanya, ” siapakah wali dari anak ini? ” Abu Thalib menjawab, ” aku adalah ayahnya “. Buhaira berkata, ” kau berdusta, ayahnya telah meninggal saat dia masih berusia 6 bulan. Kalaupun kau walinya, pasti kau adalah pamannya “. Abu Thalib bertanya,” bagaimana kau bisa tahu? “. Buhaira menjawab dengan menunjukkan Kitab Injilnya, ” karena disebutkan disini. Bawalah pulang anak ini. Karena jika orang lain tahu, anak ini akan dibunuh”

Abu Thalib pulang dengan rasa takut. Orang-orang Yahudi tidak akan menerima jika Nabi penutup bukan dari kalangan Bani Israil. Dan kenyataannya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari keturunan Arab

Berikut ini adalah beberapa hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa beliau adalah Nabi terakhir dan Nabi penutup

—————————————

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku hamba Allah yang merupakan penutup para nabi ketika Adam masih berupa tanah.”. (HR Ahmad Al-Hakim dan Ibn Hibban).

—————————————-

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رض قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: مَثَلِى وَ مَثَلُ اْلاَنْبِيَاءِ كَرَجُلٍ بَنَى دَارًا فَاَكْمَلَهَا وَ اَحْسَنَهَا اِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُوْنَهَا وَ يَتَعَجَّبُوْنَ وَ يَقُوْلُوْنَ لَوْ لاَ مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ. البخارى

Dari Jabir bin ‘Abdullah RA, dia berkata : Nabi SAW bersabda, “Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi adalah seperti orang yang membangun rumah, dimana ia menyempurnakannya dan memperindahnya, kecuali tempat sebuah bata. Lalu orang-orang memasuki rumah itu, mereka kagum dan mereka berkata : Alangkah bagusnya jika tempat sebuah bata ini disempurnakan (dan akulah bata itu sehingga sempurna)”. [HR. Bukhari ]

————————————–

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (HR. Bukhari I/14 no.15, dan Muslim I/167 no.44)

—————————————

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل ومن يأبى يا رسول الله؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga“ ( HR. Bukhari)

—————————————

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya risalah dan kenabian telah terputus. Oleh karena itu, tidak ada rasul dan nabi sesudahku.” (Diriwayatkan Ahmad dan At-Tirmidzi yang menshahihkannya)

—————————————

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata dalam hadits : “Aku dilebihkan di atas para nabi dengan enam hal: aku diberi kalimat yang padat makna, aku ditolong dengan ketakutan (yang dimasukkan ke pihak musuh), rampasan perang dihalalkan bagiku, tanah dijadikan sebagai masjid dan tempat suci bagiku, aku diutus kepada semua manusia, dan para nabi ditutup dengan aku.” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzi).

—————————————

Ketika Haji Wada, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pesan terakhir kepada kaum Muslimin pada saat itu. inti dari pesan itu adalah :

” wahai sekalian, Allah telah menyempurnakan agama ini. Wahyu telah sampai, dan agama telah sempurna”

Saat itu seluruh kaum Muslimin berbahagia dan saling berpelukan. Hanya saja Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menangis. Para sahabat bertanya kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ” wahai Abu Bakar, apa yang membuatmu menangis? ”

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab, ” apa kau belum mengerti, agama ini sudah sempurna. Risalah telah sampai kepada kita. Dan amanat telah diselesaikan. Jika semuanya telah sampai kepada kita, ini adalah tanda bahwa yang menyampaikan risalah itu akan pulang menemui Rabbnya”

Nabi menjawab, ” iya, itu benar”

Seluruh risalah telah sampai kepada umat Islam, sehingga tidak perlu lagi ada syariat yang ditambah-tambahkan. Banyak beberapa orang yang tidak bertanggung jawab mengatakan Al-Qur’an itu kurang dan risalah belum sampai semua. Padahal sudah jelas bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi penutup dan penyempurna syariat

Maka dari itu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda :

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.”  [ HR. Al-Bukhari (no. 7137), Muslim (no. 1835 (33)), Ibnu Majah (no. 2859) dan an-Nasa-i (VII/154), Ahmad (II/252-253, 270, 313, 511), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (X/41, no. 2450-2451), dari Sahabat Abu Hurairah ]

Dari hadits di atas, terdapat sebuah riwayat tentang Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu,  dimana berisikan pesan bahwa kita harus patuh terhadap pemimpin yang telah ditunjuk mengemban amanah

Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu dahulu adalah musuh Islam. Setelah 3 bulan beliau masuk Islam, Amr bin Ash ditunjuk sebagai pemimpin perang. Padahal di dalam pasukannya ada Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhum yang kelihatannya lebih pantas memimpin perang

Saat itu musim dingin. Para sahabat dan pasukan Muslimin kedinginan. Tahukah apa instruksi dari Amr bin Ash?
” jangan ada yang menyalakan api! “,kata beliau

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu datang menegur, ” wahai Amr, disini dingin sekali. Kau bilang jangan nyalakan api? ”

Umar datang kepada Abu Bakar dan mengadu, ” bagaimana bisa orang yang baru masuk Islam ini memimpin kita dalam perang? ”

Dengan bijak Abu Bakar menjawab, ” Sabar. Rasulullah telah mengutus dia. Dan tidak mungkin Rasulullah salah dalam menunjuk pemimpin. Taat dan patuhlah terhadap instruksinya”

Keesokan harinya, tiba-tiba Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu junub. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu datang dan bertanya, “apakah engkau junub wahai Amr? ”

” iya saya junub. saya mau bersuci, siapkan air”

Disiapkanlah air itu dan ternyata airnya begitu dingin hingga menusuk tulang. Kemudian Amr bin Ash memutuskan untuk tayamum. Umar menegur, ” tidak bisa wahai Amr. Disini ada air, kau tak bisa tayamum”. Tetapi Amr bin Ash tetap bertayamum untuk mensucikan dirinya

Umar kembali mengadu kepada Abu Bakar. Dan Abu Bakar kembali dengan kebijakannya meredam rasa emosi Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu

Di kala akan memulai peperangan, Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu memberi instruksi, ” saat saya takbir, kalian serang!  Ingat kalian harus berdampingan. Jangan kalian menyerang sendirian, harus ada teman pendampingnya.  Jika ia sudah selesai dengan urusannya, maka bantulah teman yang lain”

Dan saat perang berkecambuk, pasukan dari suku Arab itu mendapat kekalahan dari kaum Muslimin. Diserang oleh 300 orang kaum Muslimin sehingga mereka kabur dan tidak berani menyerang. Seluruh pasukan bertakbir dan bersiap menyerang mereka. Namun, Amr bin Ash berkata,  ” jangan serang mereka !! Kumpulkan ghanimah dan kita pulang ke Madinah”

Umar kembali menegur, ” wahai Amr, apa maksudmu. Mereka sudah kalah, dan kita hanya tinggal menyerang mereka saja” Tapi Amr bin Ash tetap kepada pendiriannya

Saat tiba di Madinah, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu langsung turun dari kudanya dan menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah keluhannya disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,beliau menemui Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu

” wahai Amr, keluhan telah sampai kepadaku. Apa pendapatmu ?”

Amr bin Ash menjawab, ” wahai Rasulullah, kalau kami nyalakan api ketika itu, musuh akan mengetahui keberadaan kita. Kita hanya 300 orang, sedangkan mereka banyak. Kalau kita diserang, maka habislah kita”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ” iya, kau benar”. Umar bin Khattab hanya terdiam

Amr bin Ash kembali menjawab, ” wahai Rasulullah, kalau saja saya bersuci dengan air yang dingin itu, saya akan sakit dan mati. Lalu siapa yang akan memimpin perang, sedangkan engkau mengutusku sebagai pemimpin perang”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ” iya kau benar”

” dan ketika pasukan musuh kabur, target telah tercapai, ghanimah telah kita dapatkan, dan musuh sudah takut kepada kita. Kalau saja kita menyerang hanya dengan 300 orang pasukan, maka kita akan habis. Karena jumlah mereka jika kota Madinah diserang, maka habislah Madinah ”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali menjawab, ” iya, kau benar”

Dari riwayat tadi, kita bisa mengambil ibrah bahwasanya kita harus taat kepada pemimpin yang telah ditunjuk untuk mengemban amanah

Hadits yang lain berkenaan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi penutup

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Surga diharamkan oleh Allah bagi seluruh Nabi sebelum aku memasukinya. Dan diharamkan bagi seluruh umat, hingga umatKu terlebih dahulu memasukinya.” ( At-Thabraniy dan Ad-Daruqutny meriwayatkan dari Umar )

—————————————

Dodi – Maa HaaDzaa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.