Dahsyatnya Doa

0
1763

Review Kajian Maa Haadzaa
Senin, 14 Maret 2016
Masjid Manarul Amal, Universitas Mercu Buana
Ust. DR. Khalid Basalamah, MA
DAHSYATNYA DO’A
================

Dari sisi bahasa, do’a adalah memohon,meminta. Dari sisi istilah, do’a adalah memohon, meminta, menyampaikan hajat hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Do’a ini disebutkan di dalam Al-Qur’an Surat Fathir ayat 60 :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [berdoa kepada-Ku] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS al-Mu’min/40: 60)

Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menciptakan segala macam yang ada di dunia ini. Segala isi dan yang ada di langit dan bumi adalah ciptaan-Nya. Maka memohonlah kepada-Nya, karena Allah subhanahu wa ta’ala sangat menyukai hamba-Nya yang manja dan meminta kepada-Nya

Seorang Mukmin tahu bahwa doa adalah suatu bentuk curhat seorang hamba kepada Rabbnya. Ada doa yang sudah disesuaikan tempat dan waktunya ada doa yang bebas dilakukan kapan saja dan dimana saja

Doa yang disesuaikan tempat dan waktunya seperti doa sebelum makan, doa sebelum tidur, doa saat keluar rumah, dan berbagai bentuk keseharian hidup yang kita jalani. Kebanyakan sekarang manusia memahami doa hanyalah dikerjakan di saat-saat darurat, seperti saat sakit, terkena musibah, dan yang lainnya

Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat selalu berdoa walaupun dalam keadaan yang tidak bersifat darurat. Sebagai contoh, saat sandal yang sahabat pakai putus, mereka langsung berdoa  “Ya Allah, sandal saya putus. Perbaikilah atau gantikanlah ”

Saking mengingatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, para sahabat hanya berkeluh kesah kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Dapat diambil pelajaran bahwasanya keluhan yang kita punya baiknya diceritakan kepada Allah semata

Terkadang do’a yang kita ucapkan belum terjawab di saat itu juga. Tujuan Allah subhanahu wa ta’ala melakukan hal itu untuk mengikat hamba-Nya bergantung hanya kepada Allah saja. Banyak juga orang berdoa justru setelah ikhtiar. Padahal hakikatnya doa itu dimulai saat kita akan memulai suatu aktifitas agar diberikan kemudahan saat mengerjakannya

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Do’a adalah inti dari ibadah “( H.R Bukhari)

Dari hadits tadi, bisa kita ambil contoh adalah shalat. Keseluruhan shalat adalah berisi do’a, baik ketika ruku’ atau saat sedang bersujud

Do’a yang mustajab ketika shalat adalah ketika sedang bersujud dan tahiyat akhir. Sujud adalah keadaan dimana seorang hamba sangatlah dekat dengan Rabbnya. Ketika bersujud hati berada di atas otak kita, sehingga berdo’a ketika bersujud sangat mustajab, wallahu alam

Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Daud no. 4043, Tirmidzi no. 3458, Ibnu Majah no. 3285 dan Ahmad 3: 439. Imam Tirmidzi, Ibnu Hajar dan ulama lainnya menghasankan hadits ini sebagaimana disetujui oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dalam Bahjatun Nazhirin, 2: 50).
Hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:َ “مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ” (رواه الترمذي).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang tidak memohon (berdoa) kepada Allahmaka Allah justru akan murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi).

Janganlah meminta kepada manusia, karena saat kita memintanya lagi, dia akan marah. Berbeda dengan Rabb kita, Allah subhanahu wa ta’ala akan murka jika kita tidak meminta kepada-Nya

Dijelaskan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

Ada beberapa poin penting tentang do’a. Mari kita perhatikan baik-baik

——————————————–

1. Pahamilah bahwa do’a itu adalah ibadah. Baik hasilnya kelihatan atau tidak,tunggu saja hasilnya

2. Do’a adalah tanda ketaatan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Maka orang yang sudah berdo’a, dianggap sebagai orang yang sudah menjalani ketaatannya

Hadits riwayat Bukhari :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ ، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا : إِذًا نُكْثِرُ ، قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ.

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak terkandung di dalamnya dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikannya salah satu dari ketiga hal berikut: Allah akan mengabulkannya dengan segera, mengakhirkan untuknya di akhirat atau memalingkannya dari keburukan yang semisalnya.”

3. Nikmati prosesnya, ketika Allah menerlambatkan do’a kita. Jika Allah subhanahu wa ta’ala mendengar do’a yang indah, santun, dan lembut, maka Allah pun menerlambatkan ijabahnya. Betapa besarnya kasih sayang yang Allah berikan kepada kita hingga Allah mencintai orang-orang yang suka meminta kepada-Nya

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan dikabulkan do’a seseorang di antara kalian sepanjang ia tidak tergesa-gesa. Ia berkata, ‘Aku telah berdo’a dan berdo’a, namun aku tidak melihat terkabulnya do’aku’, sehingga ia pun tidak lagi berdo’a” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Ada beberapa cara Allah kabulkan do’a-do’a kita
Diberikan langsung pada saat itu
Allah hilangkan  kesusahan yang akan menimpa meskipun tidak ada relevansinya dengan do’a tersebut

Sebagai contoh, jika seorang anak kecil sakit selama 10 tahun tidak sembuh-sembuh, maka itu adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala karena Allah sedang mengurangi kesusahannya, Banyak kita yang su’udzan kepada Allah karena do’a kita tidak dikabulkan. Allah akan hilangkan kesusahan kalau kita rajin berdo’a kepada-Nya

4. Allah akan simpan dalam bentuk pahala di hari kiamat nanti

Hadits shahih yang menjelaskannya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا

“Dari Abu Said bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung unsur dosa atau pemutusan silaturahmi melainkan Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal, yaitu; (1) Allah akan menyegerakan pengabulan doanya, atau (2) Allah menjadikannya sebagai simpanan baginya di akhirat, atau (3) Allah menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya”. (HR. Ahmad III/18 no.11149. dan hadits ini derajatnya Hasan Shohih sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib II/128 no.1633).

Ada sebuah riwayat tentang seorang sahabat di kancah peperangan yang begitu semangat bertakbir dan yakin bahwa pasukannya akan menang. Lalu ada salah seorang sahabat lain bertanya kepadanya,

“kenapa engkau begitu bersemangat saat engkau bertakbir, dan apa yang membuatmu yakin akan menang ? ” Lalu ia menjawab, “di rumah masih ada ibu saya, dan saya selalu minta doa kepada ibu saya agar kita menang. Dan saya meyakini doa ibu saya akan Allah ijabah, karena itu saya bertakbir dan semangat dan yakin akan menang ”

Jika ada do’a yang belum terjawab, maka jangan meminta dengan tergesa-gesa. Justru seharusnya kita senang, do’a yang tidak terjawab di dunia akan menjadi pahala bergunung-gunung di hari kiamat nanti. Sesungguhnya jika seorang hamba sudah mengucap  “Allahumma… “maka dia sudah mencapai garis finish dari doa yang dia panjatkan

Allah subhanahu wa ta’ala lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Kadang-kadang Allah tidak kabulkan doa karena Allah tahu doa itu mungkin akan membawanya ke dalam bahaya. Ujian dan cobaan adalah jalan pintas Allah subhanahu wa ta’ala untuk memaksa hamba-Nya beribadah

Sebagai contoh, ada kisah seorang laki-laki shaleh yang ingin melamar seorang wanita yang sudah sesuai dengan kriterianya. Bahkan temannya yang seorang Syekh mengatakan dia dekat sekali dengan Allah. Saat menjelang 2 bulan pernikahannya, kemudian wanita membatalkan pernikahannya, Laki-laki ini shaleh ini terus berdo’a sepanjang waktu sampai menjelang hari pernikahannya doa nya tidak terkabul.

Kemudian wanita ini menikah setelah ada yang melamarnya lagi. Sebulan setelah pernikahan wanita itu, wanita itu terserang kanker ganas di payudara sebelah kanannya hingga harus dipotong. Dua bulan berjalan wanita ini kembali terserang kanker ganas hingga payudara sebelah kirinya juga harus dipotong. Tiga bulan berjalan ada syaraf wanita ini terjepit hingga setelah 4 bulan wanita ini meninggal dunia

Syeikh itu berkata,”betapa besarnya kasih sayang Allah kepada teman saya. Seandainya doa nya dikabulkan dan mereka menikha, sungguh teman saya hanya akan jadi pelayannya selama 4 bulan tanpa menikmati indahnya pernikahan”

Dari cerita di atas kita bisa memahami bahwa Allah memberikan yang terbaik menurut Allah, dan menghindarkan kita dari doa yang mendatangkan bahaya

======================

SYARAT DITERIMANYA DO’A

* IKHLAS

Apapun do’a yang kita panjatkan kepada Allah harus ikhlas semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah Maha pemalu dan pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.”
(Shahih, HR. Abu Dawud no. 1488 dan At-Tirmidzi no. 3556 dan beliau mengatakan hasan gharib. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri) mu di setiap salat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya)”. (Q.S Al-A’raf :29)

—————————————

* MEMBUKA DOA DENGAN TAHMID DAN SHALAWAT

Setiap kita akan berdo’a, ada baiknya kita memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Doa yang dipanjatkan seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa. Dirinya berkata, ‘Aku telah berdoa namun tidak juga terkabul.’” (H.R Bukhari dan Muslim)

Hadits yang lain juga menjelaskan :

Dari Sayyidina Anas bin Malik R.a, dari Nabi S.a.w; “Tidak satu doa pun kecuali antara do’a itu dan langit terdapat suatu hijab, sehingga dibacakan shalawat kepada Nabi S.a.w. Kalau dibacakan shalawat kepada Nabi S.a.w, maka terkoyaklah hijab itu dan masuklah doa itu. Dan bila tidak dibacakan shalawat, maka kembalilah doanya.”.

Ada do’a yang tanpa membaca tahmid dan shalawat adalah do’a yang sudah disesuaikan waktu dan tempatnya seperti do’a sebelum tidur, do’a sebelum makan, atau do’a sebelum masuk kamar mandi

—————————————-

* DIIKUTI RASA TAKUT DAN KHAWATIR KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Rasa takut disini adalah merasa khawatir jika do’a nya tidak terkabul. Maka perbanyaklah berdo’a dan selalu berharap kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Ulama berpendapat bahwa seseorang lebih afdhol mempertahankan rizkinya daripada meminta dibangkitkan dari kebangkrutan, wallahu a’lam

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”(Q.S Al-A’raf : 56)

—————————————–

* MENGGUNAKAN ASMAUL HUSNA SAAT BERDOA

Selalu memuji Allah subhanahu wa ta’ala di kala berdo’a dengan menyebut nama-nama baik yang Allah miliki

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”(Q.S Al-A’raf : 180)

—————————————

* MENJAGA DIRI DARI MAKANAN DAN MINUMAN YANG HARAM

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan dalam sebuah hadits:

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Kemudian Nabi menyebutkan seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi seraya berdoa: Ya Rabbi, ya Rabbi (Wahai Tuhanku), sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya bisa terkabulkan?.” (HR. Muslim II/703 no.1015).

Ada beberapa tingkatan tidak diterimanya doa
~ tahu kalau itu pasti haram
~ tahu atau tidak tahu dari orang lain

————————————-

* TIDAK MEMINTA YANG HARAM

Maksudnya adalah Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengabulkan do’a yang buruk. Seseorang yang berbuat maksiat yang dikabulkan do’anya, sebenarnya bukan terkabul do’anya. Itu hanyalah kesenangan dunia yang Allah berikan karena terjebak dalam kemaksiatan

Allah subhanahu wa ta’ala hanya mengabulkan doa yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah adalah Maha Suci, tidak menerima kecuali sesuatu yang baik/suci… (H.R. Muslim)

—————————————–

* MUSLIM

Tidak akan diterima doa orang yang kafir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

…Dan do`a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ghafir [40]: 50).

—————————————

* TIDAK TERGESA-GESA

Tidak dikabulkan do’a jika yang meminta ingin disegerakan do’anya di ijabah oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
“Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa. ” Seorang sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa? ‘ Rasulullah Saw menjawab: ‘Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan; ‘Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan’. Setelah itu, ia merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi.’ (H.R.Muslim)

————————————-

* MAKSIMALKAN TEMPAT DAN WAKTU DITERIMANYA DOA

Tempat yang mustajab do’anya dikabul seperti di Arafah, di dekat pintu ka’bah, atau di sumur zam-zam

Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Tempat di antara sudut Ka’bah dan maqam Ibrahim adalah Multazam. Setiap orang sakit yang berdoa di sana pasti akan sembuh.” (HR. Ahmad).

Waktu-waktu yang doanya mustajab untuk di ijabah ;
~ di sepertiga malam, bahwa sesungguhnya pada waktu itu Allah subhanahu wa ta’ala turun kebumi yang paling rendah

~ di saat sujud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu” (HR. Muslim, no.482)

~ sebelum salam di tahiyat akhir dalam shalat
~ saat seseorang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)

~ seorang musafir
~ saat hujan turun. Disaat hujan turun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan rambutnya basah dan membuka sedikit dari bajunya agar air hujan masuk ke dalam bajunya kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa di kala itu

~ Antara Adzan dan Iqamah
~ doa orangtua kepada anaknya
~ doa anak shaleh kepada orangtuanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔٍ
ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ ﻭَﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ ﺑِﻪِ ﻭَﻭَﻟَﺪٍ
ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan,
atau do’a anak yang sholeh” (HR.Muslim no. 1631)

~ doa Muslim kepada Muslim lainnya
~ berdoa di hari Jumat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Hari Jumat (siangnya) ada 12 waktu, tidak ada seorang hamba yang muslim meminta kepada Allah sesuatu kecuali akan diberikan, maka carilah saat tersebut di waktu terakhir setelah shalat ‘Ashar.”(Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i dan Hakim, ia menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi

=========================

KISAH NABI DENGAN DOA

NABI ZAKARIYA A.S

Nabi Zakariya alaihis salam meminta anak kepada Allah subhanahu wa taala dimana umur Zakariya alaihis salam yang sudah tidak produksi lagi dan istrinya yang mandul. Nabi Zakariya alaihis salam meminta anak saat berumur 40 tahun, dan doa Nabi Zakariya alaihis salam  “Ya Allah, karuniakan saya anak dari wanita ini(istrinya). ” Lalu Allah memberikan anak saat beliau berusia 100 tahun, dan Allah tidak hanya memberikan seorang anak, tapi memberikan banyak kelebihan yang lain dari doanya

Firman Allah subhanahu wa taala :

{وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ (89) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ (90) }

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik.” Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (Q.S Al-Anbiya : 89-90)

————————————-

NABI AYUB A.S

Nabi Ayub adalah seseorang yang paling tampa, kaya raya, beliau seorang raja dan kehidupannya luar biasa. Beliau juga dianugrahi seorang Istri yang cantik. Beliau menikah ketika usianya 30 tahun.  Selama 20 tahun  Nabi Ayub alaihis salam merasakan nikmat yang tiada hentinya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengujinya dengan penyakit kusta dan menular sehingga para kaumnya menjauhinya

Di hari kedua, anak-anaknya yang berjumlah 12 orang meninggal seluruhnya. Di hari ketiga, seluruh kebun dan kekayaannya habis seketika oleh hama dan badai. Nabi Ayub alaihis salam tidak bisa mengucap satu kalimatpun dan selalu bersabar akan kehidupannya sekarang

Kemudian Istrinya berkata kepada Nabi Ayub alaihis salam, “wahai Nabiyullah, mengapa engkau tidak berdoa meminta kepada Allah subhana wa ta’ala untuk mengakhiri semua penderitaan ini ?”

Selama 18 tahun Beliau mengalami cobaan, kemudian Beliau berkata, “saya masih malu kepada Allah. 20 tahun saya merasakan kenikmatan tiada hentinya, maka 20 tahun juga saya harus menanggung cobaan ini”

Betapa mulianya beliau yang malu kepada Allah subhana wa ta’ala. Tidak lama setelah 20 tahun berlalu penderitaannya, Allah subhana wa ta’ala mengganti semua apa yang sudah hilang dari beliau. Allah subhanahu wa ta’ala memancarkan mata air dan kemudian Nabi Ayub alaihis salam mandi dengan air itu hingga bersih semua badannya dari penyakitnya. Bahkan beliau kelihatan lebih segar dan kekar dari 20 tahun yang lalu. Kemudian Allah subhana wa ta’ala menganugrahkan 24 anak untuk beliau menggantikan yang telah meninggal 20 tahun lalu. Setelah kaumnya mendengar kesembuhan beliau, mereka berdatangan dan memberikah hadiah kepada beliau sehingga terkumpul lagi semua kekayaan yang dulu pernah lenyap. Semua berkat doa beliau yang diijabah oleh Allah subhana wa ta’ala.

Firman Allah subhanahu  wa ta’ala :

{وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84) }

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”

INTI BAHASAN

Kadang-kadang allah subhanahu wa ta’ala menerlambatkan doa kita karena ingin menguji ketulusan hamba-Nya dalam beribadah kepada-Nya. Ingat, Allah tidak pernah memberikan satu, justru lebih. Setiap apa yang kita minta Allah subhanahu wa ta’ala menggantinya berlipat-lipat banyaknya nikmat kepada kita. Maka husnudzan lah kepada Rabb kita Allah subhanahu wa ta’ala yang selalu mau mendengar keluh kesah kita. Maka perbanyaklah berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai bukti ketaatan kita kepada Allah dan sebagai suatu jalan berkomunikasi dengan Allah subhanahu wa ta’ala

Dodi – Maa Haadzaa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.