Beriman Kepada Rububiyah Allah Terhadap Segala Sesuatu

0
691

Review Kajian Sunnah Maa Haadzaa
Senin, 4 April 2016
Masjid Al-Ikhlas, Karang Tengah Permai
Ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA
PEMBAHASAN KITAB MINHAJUL MUSLIM

BERIMAN KEPADA RUBUBIYAH ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA TERHADAP SEGALA SESUATU
Rububiyah berasal dari kata Rabb yang berarti pencipta, pemenuh kebutuhan, pengawas, dan pemusnah segala sesuatunya yang ada di alam semesta. Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, dari yang mati menjadi hidup, dan yang hidup menjadi mati

Allah juga yang memfungsikan segala apa yang diciptakan-Nya. Tangan untuk meraba, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, kaki untuk melangkah, dan segala fungsi yang ada di anggota tubuh manusia dan makhluk Allah yang lainnya

Allah juga yang menyiapkan kebutuhan yang ada di muka bumi beserta alam semesta ini. Allah ciptakan oksigen untuk makhluk-Nya bernafas, makanan untuk dimakan selama yang boleh dikonsumsi adalah halal hukumnya

Allah yang mengawasi semua makhluknya. Rasa lapar termasuk bentuk pengawasan Allah terhadap kita, sebagai tanda bahwa kita harus makan. Rasa haus juga sebagai bentuk pengawasan Allah agar kita minum. Serta rasa lelah yang ada pada diri makhluk hidup merupakan bentuk pengawasan-Nya agar kita beristirahat. Tidak ada yang bisa menahan semua sistem itu. Lapar kita harus makan, haus harus minum, dan saat capek harus istirahat

Sebagai contoh pengawasan Allah lainnya adalah ketika bersin. Saat kita hendak ingin bersin, kita tidak akan bisa menahannya. Oksigen yang sehat masuk ke dalam tubuh kita saat kita hirup. Dan yang tidak baik untuk kita saat kita hirup akan tertahan di dalam hidung oleh bulu hidung. Kemudian ketika bersin kita sedang mengeluarkan kotoran dari tubuh kita. Di situ kita memuji Allah dengan kalimat “alhamdulillah” sebagai bentuk rasa syukur kita mengeluarkan kotoran dari dalam hidung kita. Dan bagi yang mendengarnya mengucapkan “Yarhamukallah” dan dibalas dengan “Yahdikumullah”

Seseorang yang beriman kepada Rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala akan meyakini bahwa hanya Allah yang pantas disebut dengan Rabb alam semesta ( Rabbil ‘alamin)

Sedikit membahas tentang meteor dalam keyakinan kita. Meteor dianggap sebagai saat doa mustajab bagi orang-orang yang belum mengetahui asal muasalnya. Padahal meteor itu sebagai suatu tanda dari Allah yang ingin menentukan segala kadar kehidupan keesokan harinya. Dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 6-10 yang berbunyi :

{إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ (6) وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ (7) لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلإ الأعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ (8) دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ (9) إِلا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ (10) }

” Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan (telah memeliharanya) sebenar-benarnya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal. Tetapi barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya tentang meteor kepada para sahabatnya, “Apa pendapat kalian tentang meteor pada zaman Jahiliyah ?”. Sahabat menjawab,” Kami berpendapat bahwa pada zaman Jahiliyah meteor sebagai tanda kelahiran atau kematian salah seorang tokoh besar.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “tidak, itu bukanlah tanda kelahiran atau kematian seseorang. Bahwa Allah sesungguhnya ingin menentukan keputusan esok hari, menyampaikan ke delapan malaikat yang berada di singgasana-Nya. Kemudian mereka bertasbih dan terdengar oleh malaikat di langit ke-7, mereka bertasbih dan terdengar oleh malaikat di langit ke-6 sampai tasbih itu terdengar ke langit pertama”

Kemudian para malaikat bertanya kepada 8 malaikat yang berada di singgasana Allah tentang kadar kehidupan esok harinya. Lalu syaithan dan jin yang kafir dan fasik datang bersatu dan bersusun susun ke langit pertama untuk mencuri informasi. Langit pertama dipenuhi oleh malaikat yang mengambil bintang-bintang dan memanah syaithan dengan bintang-bintang tersebut. Syaithan yang lolos kemudian pergi kembali kepada orang-orang yang musyrik ( dukun, penyembah api atau berhala )

DALIL DALIL BAHWA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA ADALAH RABB
DALIL NAQLI ( WAHYU )

Beberapa dalil naqli yang menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Rabb tercantum di Surat Al-Fatihah ayat 2 :

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِين

” Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala Surat Ar-Rad ayat 16 yang berbunyi :

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لأنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلا ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (16) }

” Katakanlah, “Siapakah Tuhan langit dan bumi?”Jawabnya, “Allah.” Katakanlah, “Makapatutkah kalian mengambil pelindung-pelindung kalian dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?” Katakanlah, “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.”

Firman-Nya yang menyatakan Rububiyah dan Uluhiyah ( Ketundukan hamba kepada titah-Nya) pada Surat Ad-Dukhan ayat 7-8 :

رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ (٧) لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ (٨)

” Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya jika kamu orang-orang yang meyakini. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu dahulu.”

Sifat manusia saat masih berada di Sulbi ( tulang ekor ) yang sudah beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada Surat Al-A’raf ayat 172 :

{وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172)

” Dan (ingatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (kami lakukan yg demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang orang yg lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Sperma yang berada di sulbi ketika masuk ke dalam rahim seorang wanita ( Istri ) akan mencari sel telur di dinding rahim wanita. Saat sperma sudah menemukannya, maka ekornya akan putus dan yang tersisa hanya inti spermanya saja yang berwarna kuning kemudian bersatu dengan sel telur hingga terjadinya proses pembentukan manusia. Sperma itu seperti mendapat instruksi dari Dzat yang mengaturnya. Dialah Allah yang mengatur semua kehidupan di muka bumi ini

Pada fitrahnya, manusia akan merasa takut saat akan berbuat maksiat atau yang menyimpang dari perintah Tuhan-Nya. Baik orang Yahudi, Nasrani, Majusi atau Atheis pun pasti akan merasa takut. Karena mereka meyakini adanya Tuhan, tapi mereka tidak mengenalnya. Bayangkan jika kita berada di atas kapal yang digoncang oleh ombak besar, siapakah yang kita panggil ?

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi :

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَأَحْمَدُ بْنُ عِيسَى قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ثُمَّ يَقُولُ اقْرَءُوا { فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ }

” Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Lalu dia berkata; Bacalah oleh kalian firman Allah yg berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah itulah agama yg lurus. ” (QS. Ar Ruum (30): 30). [HR. Muslim No.4804].

Karena di dalam hati manusia terdapat fitrah, maka manusia harus memiliki rasa Imani. Imani adalah percaya walau mereka tidak melihat. Kita tidak akan bisa membayangkan luasnya Surga yang dilkatakan seluas pandangan mata. Tinggi Nabi Adam ‘alaihi salam yang mencapai 20 Meter lebih. Tidak akan bisa terbayangkan

Firman Allah subhanahu wa ta’ala Surat Al-Mukminun ayat 86-87 :

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُون(87)َ

“Tanyakan (kembali): Siapakah Tuhan Pengasuh langit yang tujuh dan Tuhan yang empunya `Arasy yang besar? Niscaya mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah! Tanyakan (kembali): Apakah kamu tidak juga mau bertakwa? ”

Pada hakikatnya, orang-orang di masa Jahiliyah percaya akan keberadaan Allah. Setiap mereka bersumpah selalu menyebut Tuhan. Tetapi mereka musyrik, karena mengikutkan hak Allah subhanahu wa ta’ala kepada makhluk atau patung

Beberapa dalil naqli tentang Rububiyah Allah tercantum di dalam Al-Qur’an
* Persaingan yang beriman kepada Allah dengan yang tidak beriman kepada Allah
* Informasi dari para Nabi dan Rasul
* Kalimat Nabi Adam pada Surat Al-A’raf ayat 23 yang berbunyi :

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.

* Surat Nuh ayat 21 :

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلا خَسَارًا (٢١)

” Nuh berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepada(perintah)ku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya,”

* Tentang Nabi Musa ‘alaihis salam Firman Allah pada Surat Asy-Syuara ayat 17-18 :

أَنْ أَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ (17) قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ (18)

” Lepaskanlah Bani Israil (pergi) beserta kami. Fir`aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.”
KISAH NABI NUH ‘ALAIHIS SALAM

Nabi Nuh ‘alaihis salam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kemudian malaikat Jibril turun dan berkata ” wahai Nuh, Allah telah menerima doamu. Allah akan mendatangkan banjir besar, maka buatlah sebuah kapal besar untuk kaummu.” Mendengar perintah itu dari malaikat Jibril, kemudian Nabi Nuh ‘alaihis salam membuat kapal bersama kaumnya. Beliau ditertawakan dan diolok-olok oleh orang kafir sambil berkata ” wahai Nuh, mau kau bawa dengan apa kapal itu ? mau kau gendong atau kau pikul ? ” Nabi Nuh tidak menghiraukannya. Kemudian malaikat Jibril datang dan mengingatkan bahwa waktunya sudah dekat

Saat kapal sudah selesai dibuat, orang-orang kafir datang mengotori kapal Nabi Nuh ‘alaihis salam dengan kotoran mereka sendiri. Penuh kapal Nabi Nuh dengan kotoran mereka. Suatu ketika, mereka (orang-orang kafir) terserang penyakit kulit kecuali Nabi Nuh ‘alaihis salam beserta orang-orang yang beriman. Suatu saat salah seorang dari orang-orang kafir datang ke kapal Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk membuang hajat. Kemudian dia terpeleset dan jatuh ke kotoran orang-orang kafir. Penyakit kulit itu hilang dan sembuh seketika. Para orang-orang kafir kemudian berbondong-bondong mendatangi kapal Nabi Nuh ‘alaihis salam sampai bersih dari kotoran. Kemudian mereka kembali berpesta pesta sampai banjir yang dijanjikan datang dan menenggelamkan mereka kecuali Nabi Nuh alaihis salam beserta kaumnya
Nabi Ibrahim dengan doanya pada Surat Ibrahim ayat 35 :

{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ (35)

” Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.”

Nabi Yusuf pada Surat Yusuf ayat 101 :

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚفَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖتَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

” Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta`bir mimpi. (Ya Tuhan). Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”

Nabi Musa pada Surat Thaha ayat 25-28

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (25) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (26) وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي (27) يَفْقَهُوا قَوْلِي (28

” Berkata Musa “Ya Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”

Nabi Harun pada Surat Thaha ayat 90 :

{وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِنْ قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي (90)

” Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku ”

Serta pada Surat Maryam ayat 1-10 :

(1). كهيعص
Kaaf Haa Yaa `Ain Shaad.
(Kaf Ha Ya ‘Ain Shad) hanya Allah yang mengetahui maksudnya.

(2). ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,
(3). إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
(4). قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku.
(5). وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا
Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,
(6). يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖوَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.
(7). يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا
Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
(8). قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا
Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”.
(9). قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا
Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.
(10). قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۚقَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا
Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”.

Serta pada Surat Al-Anbiya ayat 89 :
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.”

Nabi Isa pada Surat Al-Maidah ayat 117 :

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117)

” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (Yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu ”

Serta pada Surat Al-Maidah ayat 72 :

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.“[QS. Al-Maidah:72

Mereka ( para Nabi dan Rasul ) mengakui Rububiyah-Nya. Di zaman manapun, Nabi adalah orang yang paling baik di kaumnya baik dari fisiknya, kecerdasannya, atau akhlaknya

Rezeki makhluk hidup di muka bumi ini sudah diatur oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebuah kisah dari Ibnu Qayyim rahimahullah yang melihat seekor ular buta. Beliau ingin mengetahui bagaimana Allah memberikan rezeki kepada ular itu. Beliau mengikutinya sampai di sebuah pohon. Kemudian ular itu merayap di atas pohon dan terdapat seekor burung sedang menyisir sayapnya. Dengan cepatnya ular itu memakan burung itu, Masyaa Allah

Kisah tentang seorang tabi’in yang sedang melepas lelah setelah bekerja di kebun kurmanya. Beliau melihat seekor bangau yang buta dan kakinya yang patah sedang berada di atas batang kayu dekat sungai. Kemudian beliau ingin mengetahui bagaimana Allah memberikan rezeki kepada bangau itu. Datang seekor burung elang yang terbang ke bawah menangkap seekor ikan dari sungai, Qadarullah, ikan itu terlepas dari cengkraman burung elang tersebut dan tidak mengambilnya kembali. Ikan itu jatuh tepat di depan burung bangau itu. Kemudian burung bangau itu memakannnya
DALIL AQLI

1. Keesaan Allah subhanahu wa taala yang menciptakan segala sesuatunya menjadi keyakinan kaum Muslimin

Firman Allah pada Surat Al-Ar’af ayat 54 :

{إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (54) }
“Sesungguhnya Tuhan kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam (berkuasa) di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikuti­nya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang; (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah. Tuhan semesta alam.”

Salah satu pembelajaran dari Ibnu Qayyim ialah beliau selalu senang dan tenang menjalani kehidupan karena 2 hal. Yaitu karena beliau sudah yakin ajalnya sudah ditenyukan dan rezekinya tak akan pernah diambil oleh orang lain

Banyak dari kita saat seseorang mendapatkan rezeki yang kita mengincarnya juga, kita menganggap dia telah mengambil rejeki kita. Padahal sebenarnya tidak. Itu berarti rezekinya orang lain. Bayangkan jika Anda menyimpan makanan di dalam kulkas dan keesokan harinya sudah dimakan oleh orang lain. Apakah kita akan meminta mengembalikannya dan akan memakannya ?

Firman Allah pada Surat Al-An’am ayat 1 :

1. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”

Dan Surat Ar-Rum ayat 27 :

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (27)

“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

2. Tak ada seekor hewan pun kecuali Allah yang telah menentukan rezekinya

Firman Allah subhanahu wa ta’ala
Surat ‘Abasa ayat 26-31

ثُمَّ شَقَقْنَا الأرْضَ شَقًّا (٢٦) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (٢٧)وَعِنَبًا وَقَضْبًا (٢٨)وَزَيْتُونًا وَنَخْلا (٢٩) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (٣٠) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (٣١)

“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma. dan kebun-kebun (yang) rindang, dan buah-buahan serta rerumputan”

Surat Thaha ayat 53-54

{الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلا وَأَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّى (53) كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لأولِي النُّهَى (54)

” (Dia lah Tuhan) yang telah menjadikan bumi bagi kamu sebagai hamparan, dan Ia telah mengadakan bagi kamu padanya jalan-jalan lalu-lalang; dan Ia juga telah menurunkan hujan dari langit. Maka Kami keluarkan dengannya berjenis-jenis tanaman dan buah-buahan yang berlainan keadaannya.Makanlah kamu daripadanya dan berilah makan binatang-binatang ternak kamu; sesungguhnya semuanya itu mengandungi tanda-tanda yang membuktikan kemurahan Allah, bagi orang-orang yang berakal fikiran.”

Surat Hijr ayat 22

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنزلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ (22)

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kalian dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kalian yang menyimpannya.”

Surat Hud ayat 6

{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (6) }

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”

3. Allah subhanahu wa ta’ala memanglah Rabb. Kesaksian fitrah manusia akan merasakan dirinya lemah di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala

Firman Allah pada Surat Zukhruf ayat 9

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ {9}

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka:’’siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’’,niscaya mereka kan menjawab :’’semuanya di ciptakan oleh yang maha perkasa lagi maha mengetahui ”

Surat Al-Ankabut ayat 61 :
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61)

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: `Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?` Tentu mereka akan menjawab: `Allah`, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”

Dan Surat Al-Mukminun ayat 86-87

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ(86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ(87)

“Tanyakan (kembali): Siapakah Tuhan Pengasuh langit yang tujuh dan Tuhan yang empunya `Arasy yang besar? Niscaya mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah! Tanyakan (kembali): Apakah kamu tidak juga mau bertakwa?”

4. KeEsaan Allah terhadap kepemilikan apa yang telah diciptakannya

Firman Allah subhanahu wa ta’ala pada Surat Yunus ayat 31-32

{قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا (31) فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ (32)

” Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)? Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”

PENUTUP

Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat Rububiyah, yaitu yang menciptakan segala sesuatunya, memfungsikan apa yang diciptakannya, memenuhi kebutuhan yang diciptakannya, mengawasi makhluk-makhluk-Nya yang telah Allah ciptakan dan memusnahkan apa yang telah Dia ciptakan. Yakinlah akan Rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dengan meyakininya, maka kehidupan kita akan bahagia dan tenang sampai ke akhirat nanti.

Dodi Darussalam – Maa Haadzaa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.