Agar Amalan Tidak Sia Sia

0
635

Ringkasan Kajian Sahabat Imanuddin
Senin, 7 Maret 2016
Ust. Ali Nur, Lc

AGAR AMALAN TIDAK SIA-SIA

Amalan yang sia-sia adalah suatu perbuatan baik, harta, jasa, yang wujudnya ada dalam kehidupan sehari-hari tetapi tidak ada manfaatnya sama sekali bagi pelakunya dan umat manusia di sekitarnya. Semuanya terkait dengan amalan baik dan amal kebajikan. Sekecil apapun amalan yang kita kerjakan, kita pasti mengharap amalan kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Untuk mendapatkan satu tingkat amalan, kita harus mengerjakan amalan yang dapat meningkatkannya satu derajat, yaitu dengan jalan taqwa. Taqwa disini memiliki makna mentaati perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya

Diambil dari sebuah kisah 2 anak Adam, yaitu Qabil dan Habil. Qabil sangat menyukai bercocok tanam, sedangkan saudaranya Habil sangat menyukai berternak. Suatu waktu di kala mereka sudah beranjak dewasa, mereka diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk berkurban. Qabil memberikan persembahan hasil bercocok tanamnya yang sudah jelek dan buruk. Sedangkan saudaranya Habil memberikan persembahan berupa hewan ternaknya yaitu seekor kambing yang sehat

Allah subhanahu wa ta’ala mengambil persembahan Habil yang sangat baik di mata Allah subhanahu wa taala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mem­persembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S Al-Maidah :27)

Dari kisah 2 anak Adam tersebut, dapat ditarik sebuah beberapa kesimpulan
~ Allah subhanahu wa ta’ala hanya menerima amalan orang-orang yang bertaqwa
~ Allah subhanahu wa ta’ala menerima sedekah yang halal, bukan dari banyaknya. Lebih baik sedikit tapi halal daripada banyak tapi haram
~ Jika amalan itu berupa ibadah, maka Allah subhanahu wa ta’ala hanya menerima ibadah yang dijalani dengan keikhlasan

Itu adalah beberapa kriteria orang-orang yang diterima amalannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sudah berapa banyak amalan yang kita lakukan dan berapa banyak amalan yang kita jalani dengan ikhlas ? Hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang Mengetahui

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Q.S Ali Imron :92)

Ada beberapa perkara yang menyebabkan amalan kita tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, diantaranya :
KESYIRIKAN

Jika di dalam hati manusia terdapat unsur kesyirikan ( menyekutukan Allah ), maka semua amalan baiknya akan pupus, Semua amalannya akan dihapuskan dan tidak tersisa amal baik pada manusia yang mempunyai kesyirikan di dalam hatinya

Ibarat ilmu matematika. Bilangan apapun yang dikalikan dengan NOL maka hasilnya akan menjadi NOL. Angka NOL inilah yang dijadikan perumpamaan kesyirikan. Apapun amalan yang kita punya dan kita kerjakan, apabila di dalam hatinya terdapat kesyirikan maka amalan yang dikerjakan adalah sia-sia
Firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang kesyirikan :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (Q.S Az-Zumar :65)

Luqman juga mengajarkan kepada anaknya agar tidak mempersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).

Kesyirikan muncul akibat dari bisikan syaithan. Satu komitmen syaithan adalah ingin menjerumuskan anak cucu Adam masuk ke dalam Neraka Jahannam dan menjadikan manusia sebagai teman mereka di dalamnya. Untuk melemparkan manusia ke dalam Neraka, mereka menggoda manusia dengan perbuatan syirik seperti menyembah patung, meminta pertolongan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengampuni dosa-dosa syirik. Sungguh dosa-dosa besar itu masih mendapat ampunan Allah subhanahu wa ta’ala dibandingkan dengan dosa-dosa syirik.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendapat ancaman dari Allah subhanahu wa ta’ala. Jika beliau berbuat syirik, maka segala amalan beliau akan dihapuskan. Seperti yang kita tahu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kekasih Allah subhanahu wa ta’ala dan hanya Allah lah yang beliau takuti. Dan mustahil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan dosa besar itu

Setelah syaithan dinyatakan sesat oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan diusir dari Surga dan langit, maka syaithan pun berkata :

Syaithan berkata seperti itu, bahwasanya dia sangat yakin bahwa manusia akan banyak yang tidak bersyukur, Padahal saat dia diusir dari Surga, manusia yang diciptakan hanya satu yaitu Nabi Adam ‘alaihi salam

Dakwah pertama agama Islam adalah TAUHID ( meng-Esakan Allah subhanahu wa ta’ala. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahihnya :

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:

بَعَثَنِي رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: “إِنّكَ تَأْتِي قَوْما مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاّ الله وَأَنّي رَسُولُ اللّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنّ الله افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنّ الله افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدّ فِي فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ، فَإِيّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ، وَاتّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللّهِ حِجَابٌ

“Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutusku (ke negeri Yaman). Beliau berkata (kepadaku): “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari golongan Ahli Kitab, maka serulah mereka untuk bersyahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasanya aku (Muhammad) adalah utusan Allah. Jika mereka mematuhimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka lima shalat di setiap hari dan malam. Jika mereka mematuhimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan disalurkan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka mematuhimu dalam hal itu, maka janganlah engkau mengambil (zakat dari) harta mereka yang paling berharga. Takutlah engkau kepada doa orang yang terzhalimi karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara ia (doa orang yang terzhalimi) dan Allah.” [HR Al Bukhari (4347)

Perintah yang pertama diserukan adalah TAUHID
PENYIMPANGAN NIAT

Tidak ada perbuatan syirik. Tapi ketika amalan akan dikerjakan, niatnya bukan karena Allah ta’ala (riya)

Dalam hadits riwayat Abu Hurairah dijelaskan bahwa terdapat beberapa orang yang akan disidang oleh Allah subhanahu wa ta’ala

*ORANG YANG MATI SYAHID ( JIHAD FISABILILLAH )
Orang yang pertama kali di sidang oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah orang-orang yang berjihad. Allah subhanahu wa ta’ala akan bertanya, “amalan apa saja yang sudah kau kerjakan ?”
Maka orang itu menjawab, “aku sudah rela mati berperang di jalan-Mu Ya Allah,darahku keluar karena berjihad di jalan-Mu”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Kadzabta !!”

Orang itu berjihad karena ingin dianggap pemberani, menembus pertahanan musuh dan mati karena berperang hingga dianggap pahlawan. Bukan karena lillahi ta’ala

Kemudian Allah subhana wa ta’ala menyeretnya dalam keadaan telungkup dan mencampakkannya ke dalam Neraka

Padahal sesungguhnya jihad fisabilillah adalah jalan termudah untuk masuk Surga. Jihad fisabilillah yang sesungguhnya adalah saat seseorang yang jika darahnya terpancar, maka akan dihapuskan segala dosa-dosanya karena lillahi ta’ala.
*ORANG-ORANG YANG MENGAJARKAN AL-QUR’AN
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Orang kedua yang akan disidang oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah orang-orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Bukan hanya membaca, menghafal, dan diamalkan, tetapi juga mereka yang mengajarkannya kepada orang lain sampai mereka bisa membaca Al-Qur’an.

Allah subhanahu wa ta’ala akan bertanya, “amalan apa saja yang sudah kau kerjakan ?”
Maka orang itu menjawab, “aku sudah mempelajari Al-Qur’an Ya Allah, dan mengajarkannya kepada orang lain sehingga mereka bisa membaca Al-Qur’an. Semua karena-Mu Ya Allah”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Kadzabta !!”

Orang itu belajar Al-Qur’an karena hanya ingin dipanggil sebagai seorang yang alim, pandai, dan dianggap paling pintar Al-Qur’an. Hanya karena ingin dipanggil sebagai Ustadz, kyai, atau yang lainnya. Bukan karena lillahi ta’ala

Kemudian Allah subhana wa ta’ala menyeretnya dalam keadaan telungkup dan mencampakkannya ke dalam Neraka

Banyak juga di antara kita menganggap guru mengaji tidaklah lebih istimewa dari pekerjaan yang lain. Padahal jika kita tidak pernah belajar Al-Qur’an kita tidak akan pernah tahu huruf Hijaiyah dan tidak bisa membacanya. Sesungguhnya pelajaran Al-Qur’an harus ditanamkan oleh orangtua untuk diajarkan kepada anak-anaknya kelak. Maka orangtua tersebut akan mendapat pahala yang mengalir dari anaknya yang belajar Al-Qur’an.

Dalam kitab Shahihnya, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Jika yang mengajarkan Al-Qur’an adalah guru mengajinya, maka yang akan dapat pahala adalah yang mengajarkannya, bukan orangtuanya. Maka dari itu, tanamkanlah pelajaran Al-Qur’an ke dalam diri kita agar kelak menjadi warisan kita kepada anak-anak kita setelah kita meninggal dunia
*ORANG-ORANG YANG DIBERIKAN KELAPANGAN HARTA
Orang ketiga yang akan disidang oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah orang-orang yang diberikan kelapangan harta.

Allah subhanahu wa ta’ala akan bertanya, “amalan apa saja yang sudah kau kerjakan ?”
Maka orang itu menjawab, “Aku sudah menginfakkan hartaku kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang yang tidak mampu, dan kepada orang-orang miskin. Semua ku kerjakan karena Allah taala”

Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Kadzabta !!”

Orang itu bersedekah hanya karena ingin dipanggil sebagai orang yang dermawan, dan menjadi orang yang berbangga diri. Dia kerjakan sedekah bukan karena Allah ta’ala

Kemudian Allah subhana wa ta’ala menyeretnya dalam keadaan telungkup dan mencampakkannya ke dalam Neraka

Sudah tak jarang lagi orang yang bersedekah lima ribu rupiah dituliskan “hamba Allah” di amplopnya. Sedangkan mereka yang bersedekah puluhan juta rupiah dituliskan namanya di amplop. Perbuatan seperti ini akan menimbulkan Riya atau pamer dan menjadi berbangga diri (ujub), bukan karena Allah ta’ala

Niat itu ada dua macam, yaitu niat yang di hati dan yang ada di bibir. Niat yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah niat yang ikhlas di dalam hati
TIDAK ADA SUNNAH DALAM BERIBADAH

Sebuah riwayat dimana ada 3 orang yang bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai cara beribadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakannya karena hanya Aisyah yang mengetahui persis bagaimana cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beribadah kepada Tuhan-Nya

Lalu mereka bertiga bertanya, “mengapa Rasulullah melakukan hal itu? Padahal beliau adalah orang yang dijamin masuk Surga oleh Allah subhana wa ta’ala”

Kemudian mereka memberikan pernyataan :
“saya tidak akan pernah tidur dan akan terus beribadah kepada Allah subhana wa taala sepanjang malam”
Yang lainnya menyahut, “saya akan berpuasa tanpa berbuka puasa setiap harinya”
Dan yang lainnya juga berkata, “saya akan menjauhi diri dari wanita”

Mereka bertiga merasa bisa lebih mulia daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Aisyah radhiyallahu ‘anha menyampaikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga beliau marah. Kemudian beliau bersabda di atas mimbar,
“sungguh aku adalah orang yang paling takut kepada Allah subhana wa ta”ala dibandingkan dengan kalian. Siapa yang beriman kepada Allah maka jalankanlah sunnahku”

Sunnah Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam sudah sempurna. Maka jangan ditambah-tambah dan jangan pula dikurangi

Syariat sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :
WAKTUNYA SESUAI, contohnya adalah waktu shalat. Jangan sampai shalat Subuh dikerjakan saat shalat Ashar (perumpamaan)
TEMPATNYA SESUAI, contohnya thawaf di Ka’bah, bukan di tempat lain
JUMLAHNYA HARUS PAS, contohnya jumlah raka’at shalat. Jangan ditambah atau dikurangi, kecuali orang-orang yang dikehendaki seperti musafir yang menggabungkan shalatnya dan meringkas raka’atnya
JENISNYA SAMA, contoh di saat Aqiqah hakikatnya berkurban kambing, jangan dilebihkan atau dikurangkan, seperti berkurban unta untuk aqiqah
SEBABNYA HARUS SAMA, contohnya saat memasuki masjid mengerjakan shalat tahiyat masjid.
ADANYA KEDZALIMAN YANG DILAKUKAN

Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”
Mereka menjawab : “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.”

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 6522)

Dikarenakan karena semasa hidupnya, orang itu selalu berbuat kedzaliman terhadap sesamanya. Segala amal, pahala dan kebajikan yang ia bawa di akhirat kelak habis karena untuk membayar kedzaliman yang pernah ia kerjakan kepada orang lain, sehingga habislah semua yang ia bawa

Contohnya adalah hutang. Hutang termasuk amalan yang akan dituntut oleh orang yang dihutangi di akhirat kelak. Barang siapa yang tidak ada usaha melunaskan hutangnya padahal selama dia hidup di dunia dia sanggup membayarkannya, maka segala amalan yang dia bawa digunakan hanya untuk membayar tuntutan bagi yang dihutangi

Sedangkan bagi orang yang berusaha untuk membayar hutangnya, tapi tidak sampai lunas hutangnya karena ketidaksanggupan sampai ia meninggal, maka Allah subhana wa ta’ala yang akan membayarkannya di akhirat kelak

PENUTUP
Lalu bagaimana cara agar amalan tidak sia-sia ?
Tidak ada caranya. Tapi tetaplah berjuang, bahwasanya segala amal yang kita kerjakan harus disertai dengan keikhlasan karena Allah semata, bukan karena menginginkan pujian atau menginginkan dunia. Insyaa Allah, amal yang kita kerjakan dengan keikhlasan semata-mata karena Allah subhana wa ta’ala akan menjadi pemberat bagi timbangan amal baik kita di yaumil akhir nanti
Dodi Darussalam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.